Ciri-ciri rumah nyaman, aman, sehat dan berkualitas adalah memastikan setiap desain interiornya fokus terhadap ruang terbuka hIjau ramah lingkungan.
KoranProperti.com (Jakarta) – Menurut survei World Economic Forum (WEF), kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gaya hidup sehat meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini. Buktinya sebanyak 62 persen responden, menempatkan kesehatan sebagai prioritas pascapandemi.
Gaya hidup sehat tidak hanya terkait pola makan dan aktivitas fisik, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Lingkungan tempat tinggal, belajar, dan bekerja, dapat menjadi sumber paparan berbagai zat kimia yang berpotensi memengaruhi kesehatan jangka panjang.
Seiring berkembangnya teknologi dan industri, banyak produk rumah tangga, material bangunan, hingga peralatan rumah sehari-hari menggunakan berbagai bahan kimia untuk meningkatkan fungsi, daya tahan, maupun kualitas produk.
Namun, pemahaman mengenai jenis dan potensi dampak buruk bahan kimia, menjadi penting, agar masyarakat dapat menggunakan berbagai produk bahan material bangunan, secara lebih bijak dan aman.
Arsitek yang juga Urban Designer Adjie Negara menjelaskan bahwa lingkungan tempat tinggal atau lokasi tempat bekerja seseorang, dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan penghuninya.
BACA INI: Eksplorasi Warna Dalam Tren Desain Global, Kolaborasi Arsitektur dan Desain Interior
“Bangunan yang kita buat harus memperhatikan banyak hal, mulai dari penempatan permukaan depan rumah, agar sinar matahari yang masuk lebih banyak, kemudian penghawaan, sirkulasi silang, dan penerapan ruang dengan elemen-elemen hijau. Semua itu bukan hanya sebagai sumber oksigen, tapi juga stress relief yang sangat penting untuk mental health,” jelas Adjie.
Pemilihan material bangunan, tambah Adjie, juga penting. Dia memberikan contoh, pemilihan lantai untuk ruangan outdoor berbeda dengan material indoor.
“Kita juga harus menghindari yang namanya threat hazard, jadi hambatan-hambatan atau kendala yang dapat membahayakan karena salah memilih material,” tandasnya.
Adjie menambahkan, pemilihan material bangunan harus diperhitungkan mulai dari atap, dinding, hingga lantai.
“Memilih material itu merupakan elemen yang sangat penting di dunia arsitektur, termasuk kalau misalnya kita bicara tentang building secara umum, salah satu kriteria utamanya adalah pemilihan material. Apalagi material itu bersentuhan langsung dengan kita yang akan beraktivitas di dalamnya, baik melalui kulit atau terhirup melalui pernapasan, atau melalui pipa saluran air yang akan memengaruhi kualitas airnya,” paparnya.

Untuk rumah tinggal, sambung Adjie, jika dihuni oleh orang yang mempunyai kebutuhan atau sensitivitas khusus, seperti penyakit asma, pastinya harus menghindari bahan kimia tertentu.
Rekomendasikan Material Bangunan
Lebih jauh Adjie mengungkapkan, salah satu potensi paparan zat kimia berasal dari material bangunan yang mengandung timbal. Timbal (lead) merupakan unsur logam yang secara alami terdapat di lingkungan dan dalam praktiknya, dapat ditemukan pada berbagai produk maupun material yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Paparan timbal dapat berasal dari material bangunan, misalnya pada pipa air atau cat yang menggunakan pigmen berbasis timbal.
Sayangnya, masih banyak masyarakat awam yang belum sepenuhnya memahami bahwa material yang dianggap aman, ternyata berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.
Dalam konteks ini, arsitek memiliki peran penting, tidak hanya merancang bangunan, tetapi juga mengedukasi dan merekomendasikan pilihan material yang lebih sehat, nyaman dan aman, baik itu untuk atap, lantai, maupun dinding.
BACA INI: Yuk Beresin Rumah Jelang Lebaran, Hadirkan Suasana Hangat Ruangan Saat Silaturahim Bersama Keluarga
Menurut Adjie, saat ini sudah banyak sekali material dengan bahan material yang lebih aman sebagai pengganti.
“Kalau untuk cat, kita sarankan untuk menggunakan yang lebih banyak sumbernya dari alam, misalnya cat yang water based yang non-toxin,” jelasnya.
Pada dasarnya, cat tidak berbahaya, namun cat yang mengandung kadar timbal tinggi dapat meningkatkan risiko paparan jangka panjang. WHO telah merekomendasikan batas kandungan timbal dalam cat di bawah 90 ppm, standar yang banyak diadopsi secara global.
Di Indonesia, peningkatan kesadaran akan bahaya timbal masih diperlukan. Studi Bank Dunia (2023) menunjukkan 44,8 persen masyarakat tinggal di rumah dengan cat berbasis timbal dan 57,9 persen menggunakan cat interior yang mengandung timbal Cat ini biasanya ditemukan pada cat dekoratif seperti cat besi dan kayu.
Sementara itu, dokter spesialis anak dr. Reza Fahlevi, Sp.A(K) menambahkan bahwa lingkungan yang sehat merupakan faktor penting yang tidak dapat dipisahkan dari kesehatan keluarga, terutama dalam upaya pencegahan risiko kesehatan bagi kelompok rentan seperti anak-anak.
Apalagi jika dikaitkan dengan tumbuh kembang anak di 1000 hari pertama kehidupan, yang tidak hanya dipengaruhi oleh nutrisi dan stimulasi, tetapi juga lingkungan.
BACA INI: Pameran Desain 2025, Transformasi Revolusioner Arsitektur dan Interior
“Anak-anak itu sering melakukan eksplorasi dengan bermain, dan itu adalah hal yang penting di masa tumbuh kembangnya, jadi lingkungan tempat ia melakukan eksplorasi, baik itu di rumah, di playground, atau di sekolah harus aman,” jelas dr. Reza.
Di masa eksplorasi itu, anak dapat terpapar material berbahaya, dari rumah dan masuk ke tubuh melalui mulut dengan perantara tangan atau terhirup.

Misalnya, pada dinding, lapisan cat yang mengandung timbal dapat terdegradasi seiring waktu dan menghasilkan debu yang berpotensi terhirup atau tertelan, terutama oleh anak-anak yang memiliki kebiasaan memasukkan tangan ke dalam mulut.
“Yang dikhawatirkan adalah ketika terjadi akumulasi paparan timbal tersebut, sehingga meningkatkan risiko penyakit di kemudian hari. Dengan kadar yang sama, konsentrasi timbal yang masuk ke tubuh anak lebih besar, karena luas permukaan tubuhnya masih kecil dibandingkan dengan orang dewasa,” tambahnya.
Dia menegaskan, beberapa risiko kesehatan saat timbal ini terakumulasi adalah kerusakan otak sehingga memengaruhi kecerdasan dan konsentrasi anak. Pada orang dewasa juga dapat menyebabkan kelainan saraf, gangguan ginjal, hipertensi, hingga kerusakan sel darah kalau terpapar dalam jumlah tinggi dan durasi waktunya lama.
Baik Adjie Negara dan dr. Reza Fahlevi sepakat bahwa rumah adalah investasi jangka panjang. Membangun rumah yang aman, nyaman dan sehat untuk anak-anak tumbuh dan berkembang sangat disarankan. Apalagi, menurut riset dari WHO, sekitar 90 persen waktu manusia dihabiskan di dalam ruangan. Hal ini menegaskan bahwa kualitas ruang serta keamanan material bangunan, termasuk cat, berperan penting dalam membentuk lingkungan hunian yang sehat.
Di Indonesia, pesatnya pembangunan dan aktivitas renovasi rumah, turut menjadikan pemilihan material bangunan sebagai faktor yang semakin relevan dalam mendukung kesehatan jangka panjang, baik di rumah, kantor, sekolah, maupun fasilitas penitipan anak (daycare) yang menjadi tempat masyarakat beraktivitas setiap hari.
Untuk mendukung penggunaan material bangunan yang lebih aman, Indonesia telah memiliki regulasi melalui Standar Nasional Indonesia (SNI) yang mengatur cat dekoratif berbasis pelarut dengan pembatasan kandungan zat berbahaya seperti timbal. Standar ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mengambil keputusan yang lebih bijak dalam memilih bahan material bangunan.
Momentum renovasi rumah, seperti menjelang lebaran dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk tidak hanya memperbarui tampilan estetika hunian, tetapi juga meningkatkan aspek kesehatan dan keselamatan, termasuk melalui pemilihan cat dan pelapis yang lebih aman serta bebas timbal.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terbaru dunia properti melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news setiap hari.
Hotline Redaksi (WA) 0812 8934 9614
Email: redaksi@koranproperti.com

