Bila Bandara Bali Utara terwujud, maka kawasan disekitarnya harus siap. Investasi di sektor pariwisata dan properti bukan hanya soal bangunan, tetapi menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru. Investor properti Tiongkok sudah siap menyerbu Bali. Realisasi pembangunan Bandara Bali Utara sangat mendesak.
KoranProperti.com (Bali) – Pertumbuhan sektor pariwisata dan properti prestisius di Bali Utara (residensial dan komersial), diperkirakan akan semakin meningkat di tahun 2026. Para pengembang besar nasional dan lokal, dikabarkan sudah menyiapkan agenda untuk mengembangkan sejumlah proyek properti baru di Bali Utara.
Para pengembang lokal maupun nasional itu, nantinya akan bersaing ketat dengan investor properti Tiongkok yang dalam waktu dekat ini segera menyerbu Pulau Dewata. Hal ini terjadi, karena semakin menguatnya wacana pembangunan Bandara Bali Utara. Fakta itu terlihat, saat pameran Luxury Property Showcase (LPS) Shanghai 2025, yang digelar di Tiongkok, tanggal 5 sampai 7 Desember 2025 lalu.
Bandar Udara Internasional Bali Utara (North Bali International Airport atau NBIA) rencananya akan dibangun di Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali Utara. Bandara NBIA merupakan proyek yang diinisiasi PT BIBU Panji Sakti bersama Gubernur Bali I Made Mangku Pastika, pada tanggal 9 Juli 2015 lalu. Dana yang dibutuhkan untuk pembangunan bandara ini mencapai Rp50 triliun, dan akan dibangun tanpa menggunakan anggaran APBN.
Head of Investment and Business Development Jimbaran Hijau Bali Tavan Dutton mengatakan, para investor properti Tiongkok ingin tahu tentang cara proyek properti yang dikelola secara bertanggung jawab dan selaras dengan karakter lokal Bali.
“Bali terus memperluas diplomasi investasi dengan menekankan kualitas pembangunan, keberlanjutan, dan pelestarian budaya lokal,” kata Tavan dalam siaran pers, Minggu (3/1/2026).
Founder sekaligus CEO Jimbaran Hijau Dr. Putu Agung Prianta menegaskan, keikutsertaan Jimbaran Hijau dalam ajang LPS Shanghai 2025 lalu, tidak hanya membawa misi bisnis, tetapi juga menyebarkan nilai kebudayaan Bali.
“Kami memperkenalkan filosofi Tri Hita Karana sebagai fondasi pengembangan kawasan di Bali,” tandas Putu.
Menurut Putu, Jimbaran Hijau juga memperkenalkan pendekatan investasi properti yang tidak semata berorientasi pada pertumbuhan aset, tetapi juga pada dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan masyarakat setempat. Konsep ini dipresentasikan di tengah meningkatnya minat investor global terhadap proyek berprinsip Environmental, Social and Governance (ESG).
Proyek Strategis Bali Utara
Sementara itu, PT Sarana Pembangunan Bali juga sudah berkolaborasi dengan Dopin Pariwisata Indonesia, dan siap menggelontorkan investasi senilai Rp250 miliar untuk memperkuat proyek pariwisata di Bali Utara.
Proyek-proyek properti strategis di Bali Utara, pertumbuhannya semakin signifikan seiring menguatnya wacana pembangunan Bandara Bali Utara.
CEO PT Sarana Pembangunan Bali Made Hariyantha mengatakan, kolaborasi dengan Dopin Pariwisata Indonesia merupakan langkah strategis untuk memperkuat portofolio investasi jangka panjang, di sektor pariwisata berkelanjutan.

“Kami sudah mendapatkan mandat letter of investment dari investor luar negeri untuk mengembangkan proyek hotel dan wisata. Dopin Indonesia memiliki rekam jejak kuat sebagai investor di berbagai proyek besar perhotelan dan destinasi wisata di Bali,” ujar Made.
BACA INI: Rumor Soal Barito Pacific Group Akuisisi Bukit Uluwatu Bali, Miliarder Prajogo Pangestu Bantah Keras
Made memaparkan, investasi sebesar Rp250 miliar akan melalui beberapa tahapan mengikuti kesiapan lahan serta proses perizinan.
“Bali Utara memiliki potensi luar biasa. Kami melihat kebutuhan pada fasilitas akomodasi, kawasan wisata terpadu, serta ekosistem pendukung pariwisata yang terintegrasi. Investasi ini diharapkan menjadi katalis,” pungkas Made.
Sementara itu Direktur Dopin Group Donny Pur mengungkapkan, pihaknya sedang menyiapkan penguatan struktur pendanaan untuk ekspansi 2026. Kolaborasi dengan PT Sarana Pembangunan Bali bukan sekadar soal modal, tetapi juga sinergi jejaring dan pengalaman menarik.
Kolaborasi ini, tambah Donny, sebagai bentuk dukungan untuk memenuhi kebutuhan pengembangan ekosistem pariwisata di Bali Utara.
“Bila Bandara Bali Utara terwujud, maka kawasan sekitarnya harus siap. Investasi di sektor pariwisata bukan hanya soal bangunan, tetapi menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru,” kata Donny Pur.
Perlu diketahui, prospek properti di Bali Utara semakin cerah, karena potensi pengembangan infrastrukturnya terjadi secara besar-besaran. Harga lahan untuk pengembangan kawasan residensial dan komersial juga masih relatif terjangkau, dibandingkan dengan wilayah Bali Selatan.
Bali Utara menawarkan peluang investasi properti yang menarik dengan fundamental kuat dari pengembangan infrastruktur dan potensi pariwisata alam yang terus berkembang. Ini adalah pasar properti yang menjanjikan untuk investor jangka panjang yang mencari pertumbuhan dan nilai provit lebih tinggi, selain di Bali Selatan.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terbaru dunia properti melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news setiap hari.
Hotline Redaksi (WA) 0812 8934 9614
Email: redaksi@koranproperti.com


