Sekarang ini, konsumen kelompok sultan lebih suka menikmati minuman dan makanan di mal elit dengan pengalaman nyaman, instagrammable serta sesuai dengan gaya hidup mereka.
KoranProperti.com (Jakarta) – Saat ini, para pengusaha sektor kuliner atau F&B (Food & Beverage) menjadi penyewa paling aktif yang mendominasi permintaan ruang di sejumlah mal elit Jakarta. Hal ini ditegaskan Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto, di Jakarta, Minggu (12/4/2026).
Menurut Ferry, mal kelas atas atau segmen premium mencatatkan, adanya antrean panjang penyewa (waitlist) yang berasal dari para pengusaha.
“Pada kuartal I-2026, okupansi mal kelas atas sudah menyentuh angka 90 persen,” tandas Ferry.
Ferry menambahkan, saat ini mal kelas atas masih menjadi rebutan para peritel. Mereka lebih mengutamakan traffic yang ramai, walaupun hanya menempati space kecil.
Untuk menarik pengunjung, beberapa mal juga sudah menawarkan area semi outdoor disertai fasilitas gaya hidup modern, seperti pusat olahraga dan hiburan.
Dampak dari banyaknya fasilitas mewah dan modern yang ditawarkan manajemen mal kepada pengunjung, otomatis biaya pemeliharaan mal naik secara signifikan, yang pada akhirnya membawa efek kepada kenaikan tarif sewa, walaupun harganya masih dalam skala moderat.
BACA INI: Februari Ini Mal Elite di Jakarta Selatan Resmi Dibuka, Pengunjung Disebut Tergoda ‘Sesuatu’ di Sini
Proses sinergi yang kuat untuk jangka panjang, antara pemilik mal dan peritel, mash tetap bergantung kepada kemampuan manajemen mal, dalam menciptakan pengalaman makan dan belanja yang unik dan menarik. Pengelola mal dituntut untuk konsisten menghadirkan pembaruan sesuai perkembangan zaman dan modernitas, karena konsumen sekarang semakin cerdas dalam memilihi destinasi kuliner maupun belanja.
Pada tahun lalu, industri F&B Indonesia juga menunjukkan performa solid, yaitu pada kuartal II-2025, mencatat pertumbuhan sebesar 6,15 persen, melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor ini juga memberikan kontribusi signifikan bagi PDB industri pengolahan non-migas, hingga mencapai sekitar 41 persen dari PDB industri non-migas.
Realisasi investasi di sektor F&B terus menunjukkan optimisme tinggi, dengan investasi mencapai Rp22,63 triliun, pada kuartal I-2025.
Data BPS dalam proyeksi industri menyebut, pasar layanan makanan (food service) di Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar USD 62,40 miliar, dengan pertumbuhan tahunan yang diproyeksikan terus meningkat selama periode 2025 sampai 2030. Data ini menunjukkan, Indonesia semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu pasar F&B terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Perkembangan Positif Sektor F&B
Khusus untuk segmen kafe dan specialty kafe, diperkirakan akan mencatat pertumbuhan tertinggi (tingkat pertumbuhan tahunan gabungan/CAGR) sampai tahun 2030 mendatang.
Bagi pengusaha F&B, hal ini tentu akan membuka peluang besar untuk melakukan inovasi produk. Bisnis F&B tidak lagi hanya sekadar menawarkan menu kuliner. Dalam 10 tahun terakhir ini, faktanya para pengusaha F&B melakukan inovasi besar-besaran, menyangkut model dan desain interior ruangannya.
Desain interior (termasuk penggunaan material ramah lingkungan, suasana nyaman, dan estetika visual) dianggap sebagai salah satu faktor kunci bagi suksesnya outlet F&B.

Sekarang ini, konsumen golongan sultan lebih suka menikmati minuman dan makanan dengan pengalaman nyaman, instagrammable yang sesuai dengan gaya hidup mereka.
BACA INI: Cerita Dibalik Transformasi Mal Neo Soho Berubah Nama Menjadi Mal Central Park 2, Begini Faktanya…
Perkembangan positif di sektor F&B tidak hanya soal bisnis dan profit. Industri ini juga berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menuturkan, pemerintah memandang kuliner sebagai bagian dari ekspresi budaya dan ruang inovasi untuk terus berkembang. Demikian pula dengan
“Dari hulu ke hilir, ekosistem ini melibatkan petani, produsen, koki, pengelola hotel, pelaku kreatif, pemilik waralaba, dan platform digital yang semuanya bekerja untuk menghadirkan keunggulan,” tutur Riefky.
Data Kementerian Ekonomi Kreatif menunjukkan, industri makanan dan minuman menyumbang hingga 38 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif. Di dalamnya terdapat 11 ribu pelaku usaha yang menyediakan 7,6 juta lapangan pekerjaan. Sementara nilai tambah ekonomi kreatif tercatat meningkat 119 persen dengan nilai ekspor yang naik 67 persen pada tahun 2024 lalu.
“Ini menunjukkan pertumbuhan yang inklusif. Sektor kuliner tidak hanya mendorong permintaan domestik, tetapi juga mendominasi ekspor kreatif Indonesia, dan menjadikannya salah satu sektor yang paling kompetitif dan dapat dikembangkan. Pemerintah terus berkomitmen untuk membangun ekosistem yang inklusif dan kompetitif,” tegas Riefky.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terbaru dan informasi seputar dunia properti dan bahan bangunan melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda selalu update dengan mengklik koranproperti.com dan google news setiap hari.
Hotline Redaksi (WA) 0812 8934 9614
Email: redaksi@koranproperti.com

