Permintaan apartemen di Jabodetabek tahun 2026 mendatang, masih akan didominasi kalangan kelas menengah, profesional muda, ekspatriat, pekerja musiman/kontrak, pekerja proyek hingga mahasiswa. Namun, hanya apartemen yang memiliki spesifikasi seperti ini yang akan menjadi target konsumen.
KoranProperti.com (Jakarta) – Strategic Consulting Cushman & Wakefield Indonesia Arief Rahardjo mengatakan, penjualan apartemen di Jakarta pada tahun 2026 mendatang akan mencapai 94 persen dari total suplai yang tersedia sebanyak 20.000 unit.
Berdasarkan analisis data & proyeksi properti 2026 koranproperti.com, lokasi apartemen yang menjadi target sasaran konsumen antara lain masih di sekitar Jakarta, Pasar Minggu, Bekasi, Depok, Bogor dan Tangerang. Permintaan apartemen pada tahun 2026 mendatang terhadap wilayah di atas, diprediksi masih akan meningkat secara signifikan.
Sejumlah pengembang kelas menengah dan beberapa developer besar, dipastikan akan menyiapkan lahan baru untuk segera mengembangkan atau mereposisi proyek apartemen yang sudah ada, menjadi apartemen yang dikhususkan untuk sewa dengan menyasar pasar kelas menengah.
Namun demikian, pengembang juga wajib tahu bahwa konsumen memiliki spesifikasi yang bersifat privasi terhadap apartemen yang akan dihuninya, baik secara sewa maupun membelinya.
Pada tahap awal atau survei, para konsumen akan melihat secara fisik bangunan gedung apartemen dan tipe ruang yang ditawarkan, apakah sesuai dengan kebutuhan pribadinya, seperti gaya arsitekturnya yang modern, suasana ruang per ruangnya yang nyaman, serta penerapan sistem keamanannya selama 24 jam.
Pada tahap kedua, konsumen akan melihat fasilitas umum yang tersedia dalam kawasan apartemen, misalnya akses moda transportasi publik (konsep integrasi TOD) yang memadai, fasilitas kebutuhan gaya hidup modern seperti pusat perbelanjaan dan hiburan, pasar tradisional, serta dekatnya lokasi apartemen dengan pusat kesehatan, seperti rumah sakit umum.
BACA INI: Pasar Apartemen 2025 ‘Hancur Lebur’, Pengembang Terancam Terlilit Utang
Kemudian, setelah dua hal di atas selesai, konsumen akan memulai melihat harga apartemen dan penerapan pajak yang berlaku, saat membeli atau menyewa apartemen.
Khusus untuk pajak, konsumen menginginkan pengembang yang menawarkan apartemen, harus menerapkan PPN DTP Pemerintah sampai tahun 2027.
Pada bagian akhir, Konsumen akan membandingkan tinggal di apartemen atau rumah tapak, tentunya disesuaikan dengan penghasilan yang mereka miliki.
Serapan apartemen di wilayah Jabodetabek masih tetap rendah. Hal ini terjadi, karena tingginya harga apartemen sewa maupun jual, serta Iuran Pemeliharaan Lingkungaan (IPL) apartemen yang terbilang masih relatif tinggi.
Harga Sewa dan Jual Apartemen
Adapun wilayah apartemen yang harga dan IPL-nya masih masih tinggi, berada di wilayah Jakarta dan Serpong, kemudian disusul Bogor, Tangerang dan paling rendah di daerah Bekasi.

Pasokan apartemen baru atau unit penambahan unit ruang baru di apartemen lama tahun 2026 mendatang, diprediksi masih akan stagnan, dan kalau pun terjadi transaksi hanya sebatas sisa-sisa unit ruang yang masih tersedia.
Hanya sebagian pengembang apartemen yang menawarkan harga jual berada di kisaran antara Rp700 sampai Rp900 jutaan. Sedangkah untuk harga sewa, harga tertingginya sekitar Rp3 jutaan per bulan.
Harga yang terbilang masih tinggi ini, akan berdampak melemahnya tingkat okupansi apartemen dan pangsa pasar apartemen tetap melambat, ditambah lagi krisis ekonomi dan daya beli masyarakat yang masih akan berlangsung sampai tahun 2026.
Salah satu pilihan terbaik untuk tinggal di apartemen di tahun 2026 adalah dengan menyewa sebagai solusi. untuk menghemat biaya pengeluaran. Selain itu, tinggal di apartemen dinilai akan mempermudah aktivitas kehidupan sehari-hari karena posisinya berada di pusat kota.
BACA INI: Pasar Apartemen dan Kondominium 2025 Lesu, Bos Summarecon Bilang Begini…
Dukungan kebijakan Pemerintah, seperti PPN DTP dan tingkat suku bunga bank yang rendah dan stabil, menjadi salah satu indikator apartemen menjadi daya tarik sebagai tempat tinggal atau hunian sementara.

Dalam konteks ini, prospek bisnis sewa apartemen masih kalah jauh dibandingkan dengan jual-beli rumah tapak. Terlebih lagi Pemerintah saat ini sedang getol-getolnya membangun rumah subsidi KPR FLPP di sejumlah wilayah Indonesia.
Pemulihan ekonomi, meningkatnya daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor yang berperan besar meningkatkan okupansi apartemen. Namun, bila pertumbuhan ekonomi masih terjadi perlambatan, para konsumen cenderung lebih memilih membeli rumah subsidi atau menyewa rumah yang berada di pusat kota.
Apartemen di Jakarta, Bogor, Bekasi dan Tangerang, dan Depok masih tetap menjadi pilihan menarik bagi konsumen, namun spesifikasi yang telah disebutkan di atas menjadi ukuran mutlak yang tidak bisa ditawar lagi.
Tren properti apartemem tahun 2026, harus mencerminkan kondisi ekonomi konsumen dan harus melakukan penyesuaian fasilitas yang dibutuhkan konsumen, agar konsumen tertarik untuk tinggal di apartemen.
Tipe studio (1 kamar tidur) menjadi salah satu tipe yang paling banyak dicari konsumen. Pengembang apartemen wajib menyiapkan pasokan tipe ini. Tipe studio dinilai akan mendukung tren kebutuhan hunian yang simpel, efisien, dan mudah dikelola. Unit tipe studio, masih akan banyak dibutuhkan konsumen tahun 2026.
Pasar sewa apartemen 2026 juga harus membuka opsi sewa bulanan, tahunan atau bahkan harian. Fleksibilitas durasi sewa ini, bisa memperluas target konsumen dan membantu menjaga arus pendapatan pengembang apartemen menjadi tetap stabil di tahun 2026.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terbaru dunia properti melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news setiap hari.
Hotline Redaksi (WA) 0812 8934 9614
Email: redaksi@koranproperti.com


