Kehadiran investor Jepang, bukan lagi hanya sekadar mengucurkan dana buat pengembang properti di Indonesia. Kini, mereka menjadi ‘pemain kunci’ dalam sejumlah proyek mega struktur dan pengembangan kota mandiri terpadu (township) di Indonesia, khususnya wilayah Jabodetabek.
KoranProperti.com (Jakarta) – Industri properti nasional, khususnya para pengembang besar, harus segera bersiap-siap menghadapi ekspansi perusahaan properti raksasa Jepang yang akan mencaplok (akuisisi), sejumlah proyek properti mewah yang digarap pengembang besar di Indonesia.
Sejumlah perusahaan properti raksasa Jepang, diprediksi akan banyak membeli dan membuka proyek properti baru di Pulau Jawa, khususnya kawasan Jabodetabek, Bali, Medan, dan Makassar. Mereka akan mengembangkan berbagai proyek properti residensial mewah maupun komersial pada tahun 2026.
Seperti diketahui, dua tahun sebelumnya (2024 dan 2025), ada pengembang properti raksasa Jepang yang sudah melakukan kolaborasi dan mengakuisisi pengembang di Jabodetabek. Buktinya, hunian residensial maupun komersial yang dikembangkan, lebih banyak didominasi oleh pemakaian teknologi dan standar kualitas Jepang, serta model dan gaya arsitekturnya mengadopsi bangunan negeri Sakura.
Kehadiran investor Jepang, bukan lagi hanya sekadar mengucurkan dana buat pengembang properti di Indonesia. Kini, mereka menjadi ‘pemain kunci’ dalam mengembangkan sejumlah proyek mega struktur dan pengembangan kota mandiri terpadu (township). di Indonesia, khususnya wilayah Jabodetabek.
Contohnya ialah Mitsubishi Estate Co. Ltd. (MEC). MEC merupakan salah satu investor Jepang yang paling agresif sekaligus prestisius. Adapun beberapa proyek bergengsi yang mereka garap di Indonesia, di antaranya Oasis Central Sudirman (Two Sudirman), Trinity Tower, The Grand Outlet Kura-Kura Bali, The Grand Outlet Karawang, serta Daisan.
Melihat semakin kokohnya keberadaan pengembang properti raksasa Jepang di Indonesia, tentu saja hal ini akan menjadi tantangan dan peluang baru bagi beberapa pengembang besar di Indonesia, sekaligus melahirkan persaingan ketat, terutama dalam menyedot orang-orang kaya alias golongan sultan yang terus membeli rumah mewah di kawasan Jabodetabek dan daerah lainnya.
BACA INI: Digarap Bareng Pengembang Jepang dan Indonesia, Ini Daya Tarik Peninsula District Sawangan
Kehadiran investor Jepang secara tidak langsung menciptakan iklim positif investasi di dalam negeri, khususnya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia menjelang akhir tahun 2025, serta diharapkan tetap berkelanjutan di tahun 2026.
Namun demikian, kehadiran investor Jepang juga bisa melahirkan sentimen negatif terhadap eksistensi pengembang dalam negeri, di antaranya ialah akan ada beberapa pengembang lokal yang akan ‘gulung tikar’ di tahun 2026 mendatang, karena sudah tidak mampu lagi mengembangkan proyek baru, akibat keterbatasan modal dan utang yang akan jatuh tempo.
Investor Jepang seperti Hankyu Hanshin Properties yang berkolaborasi dengan Sumitomo Forestry, saat ini sangat gencar mengembangkan proyek properti residensial mewah di sejumlah kota. Investor Jepang menilai, industri properti Indonesia sangat menguntungkan karena pangsa pasarnya masih sangat besar.
Masa Depan Industri Properti Indonesia
Presiden Komisaris PT Sinar Hankyu Hanshin Toda Masahiko mengatakan, berkolaborasi dengan pengembang besar di Indonesia, menjadi peristiwa penting, khususnya saat meluncurkan proyek perumahan mewah, seperti proyek residensial Vireya, di BSD City, Serpong, Tangerang, Banten.

“Proyek residensial Vireya yang kami kembangkan akan menghadirkan lingkungan kehidupan yang modern, nyaman, asri dan berkelanjutan,” tegas Toda, dikutip koranproperti.com dari laman Sinarmas Land, Minggu (28/12/2025).
Para investor Jepang memprediksi bahwa masa depan atau prospek industri properti Indonesia, bukan lagi hanya sebatas membangun rumah semata, tetapi juga menghadirkan ekosistem lingkungan hunian terpadu, terintergrasi, modern, nyaman, aman serta berkelanjutan.
BACA INI: Fukuoka Jepang Ikut Kucurkan Dana, APLN Gelar Klaster Edelweiss dan Mahogany di Podomoro Tenjo
Dalam kiprahnya di Indonesia, Hankyu Hanshin juga sudah mengakuisisi mayoritas saham Central Park Mall, Neo Soho Mall, dan Deli Park Mall Medan milik PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN). Kemudian, mereka ‘merebut’ kompleks Plaza Indonesia, fX Sudirman, Sinarmas Land Plaza, Bakrie Tower, dan MM2100.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Sumitomo Forestry Indonesia Fumihide Nakatsu menegaskan, berkolaborasi dengan pengembang besar di Indonesia, akan menciptakan peluang besar untuk terlibat langsung dalam pembangunan kota-kota mandiri dan terpadu di sejumlah wilayah Indonesia dan Asia Tenggara.
Hingga saat ini, sudah ada sejumlah investor Jepang yang bercokol dan mengembangkan proyek properti mewah di Indonesia yaitu Hankyu Hanshin Properties Corp, Sumitomo Forestry Co, Ltd, Tokyu Land Indonesia, dan Mitsubishi Corporation (MC).
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terbaru dunia properti melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news setiap hari.
Hotline Redaksi (WA) 0812 8934 9614
Email: redaksi@koranproperti.com


