Lonjakan harga saham DADA hingga mencapai sekitar 35 persen dalam waktu relatif singkat, dinilai bukan sebagai akhir perjalanan, melainkan memasuki fase kebangitan dan tren positif.
KoranProperti.com (Jakarta) – Memasuki tahun 2026, Saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) mengalami lonjakan signifikan.
Dalam waktu hanya sekitar 15 menit perdagangan, saham ini melonjak hingga 35 persen, bergerak cepat dari level Rp50 menuju area yang jauh lebih tinggi.
Lonjakan ini bukan sekadar fluktuasi sesaat, melainkan memantik perhatian para pelaku pasar, karena terjadi dengan arah yang jelas dan volume yang solid. Lonjakan harga saham DADA terjadi seiring meningkatnya optimisme investor terhadap prospek kinerja perseroan ke depan.
Emiten properti yang dikenal fokus pada pengembangan hunian berkualitas ini, dinilai memiliki fundamental Perseroan yang relatif solid, ditopang portofolio proyek yang terus berjalan, serta strategi pengembangan yang adaptif terhadap kebutuhan pasar.
Direktur Diamond Citra Propertindo Tbk Bayu Setiawan mengungkapkan, salah satu faktor utama yang menjadi sorotan adalah lonjakan kinerja laba perusahaan.
Dari laporan keuangan terakhir, DADA mengalami pertumbuhan yang signifikan, bahkan mencapai ratusan persen dari kuartal II ke kuartal III.
“Ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya bertahan, tetapi berhasil mengakselerasi bisnis secara nyata,” tegas Bayu dalam siaran pers yang diterima koranproperti.com, Kamis (8/1/2025)
BACA INI: Laba Bersih DADA Tembus 455 Persen, Bukti Efektivitas Strategi Manajemen Perseroan
Kenaikan laba sebesar ini, tambah Bayu, biasanya menjadi early signal bahwa valuasi lama sudah tidak lagi relevan. Harga saham di level Rp50 mulai dianggap tidak mencerminkan kondisi fundamental terkini.
Dalam dinamika pasar modal, tidak semua lonjakan harga saham dipandang sebagai fenomena sesaat. Beberapa justru menandai perubahan fase yang lebih fundamental. Kondisi inilah yang mulai terjadi pada saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) yang belakangan ini terus bergerak agresif.
Di kalangan analis, saham yang mengalami kebangkitan seperti ini, kerap disebut memasuki fase awakening, yaitu transisi dari saham yang sebelumnya kurang diperhatikan, menjadi saham dengan growth story yang mulai diperhitungkan.
Lonjakan harga saham hingga sekitar 35 persen dalam waktu relatif singkat, dinilai bukan sebagai akhir perjalanan, melainkan pembuka dari potensi fase kebangkitan baru dan tren positif.
“Itu artinya bagi investor jangka menengah hingga panjang, pergerakan semacam ini sering dibaca sebagai sinyal awal dari proses re-rating valuasi. Pasar mulai menyesuaikan harga saham dengan prospek dan fundamental perusahaan yang sebelumnya belum sepenuhnya tercermin,” papar Bayu.
Selain itu, lonjakan tajam juga kerap diinterpretasikan sebagai indikasi masuknya smart money, serta respons atas perbaikan kinerja yang datang lebih dahulu dibandingkan reaksi harga.
Bayu menegaskan, pergerakan DADA kali ini dinilai memiliki pijakan yang lebih kuat, berbeda dengan saham-saham yang naik, karena rumor atau sentimen sesaat.
DADA dengan data kinerja riil perseroan, menjadi faktor pembeda utama yang mendorong perubahan persepsi pasar. Kondisi tersebut membuat sebagian pelaku pasar mulai menggeser strategi, dari sekadar trading jangka pendek menuju pendekatan hold.
Penguatan Saham dan Kenaikan Laba
Lonjakan sekitar 35 persen hanya dalam hitungan menit dari level Rp50, bukanlah peristiwa yang lazim terjadi tanpa sebab. Pasar seakan mengirimkan pesan bahwa tengah terjadi perubahan signifikan di tubuh DADA.
Apalagi, lonjakan tersebut disertai dengan data kenaikan laba yang melonjak ratusan persen dari kuartal II ke kuartal III, memperkuat keyakinan bahwa penguatan saham tidak berdiri di ruang hampa.

Dengan perkembangan tersebut, DADA mulai dipersepsikan bukan lagi sekadar saham berharga rendah, melainkan emiten dengan potensi cerita pertumbuhan baru. Fokus investor pun perlahan bergeser.
“Pertanyaan yang muncul kini bukan lagi, mengapa saham ini naik? Melainkan sejauhmana proses revaluasi ini akan berlanjut,” papar Bayu.
Di tengah mulai pulihnya sektor properti dan meningkatnya selektivitas investor, saham DADA berpotensi menjadi salah satu contoh transformasi emiten kecil yang berhasil menarik kembali perhatian pasar, melalui perbaikan kinerja dan prospek yang lebih menjanjikan.
Terjadinya lonjakan saham DADA di awal 2026, dapat menjadi sinyal awal pembentukan tren positif, meskipun investor tetap perlu mencermati faktor risiko seperti kondisi makroekonomi global, daya beli masyarakat, serta realisasi kinerja keuangan perseroan pada kuartal-kuartal mendatang. Dengan volatilitas yang masih berpotensi terjadi, pendekatan selektif dan berbasis fundamental, tetap menjadi kunci.
Menurut Bayu, ke depan, saham DADA berpeluang melanjutkan penguatan apabila perseroan mampu menjaga kinerja penjualan, merealisasikan proyek sesuai rencana, serta menghadirkan katalis korporasi yang memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.
“Di tengah mulai bangkitnya sektor properti, DADA berpotensi menjadi salah satu emiten yang ikut menikmati momentum pemulihan tersebut,” tutup Bayu optimis.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terbaru dunia properti melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news setiap hari.
Hotline Redaksi (WA) 0812 8934 9614
Email: redaksi@koranproperti.com


