Kenaikan harga tanah atau lahan disebabkan oleh berbagai faktor di antaranya, keterbatasan lahan, pertumbuhan populasi, pengembangan infrastruktur kota dan kelengkapan fasilitas umum, serta tingginya permintaan lahan untuk investasi properti residensial maupun komersial.
KoranProperti.com (Jakarta) – Memasuki minggu ketiga Februari 2026, harga tanah di beberapa wilayah mengalami kenaikan signifikan. Para pengembang juga sudah mulai membidik lahan baru di wilayah tertentu, untuk mengembangkan properti residensial dan komersial.
Kawasan Jabodetabek dan sekitarnya, dinilai masih memberikan peluang cuan besar, bila lahan yang ada digunakan untuk pengembangan investasi properti, khususnya rumah tapak.
Berdasarkan data Cushman & Wakefield/Pinhome akhir tahun 2025 lalu (awal tahun 2026), harga tanah rata-rata di Jabodetabek menembus angka Rp12 jutaan hingga Rp12,74 jutaan per meter persegi, terjadi kenaikan sekitar 1,58 persen dari tahun sebelumnya.
Wilayah Jakarta Pusat memimpin dengan harga tertinggi hingga mencapai Rp200 jutaan per meter persegi, disusul Tangerang, Bogor dan Depok berkisar rata-rata antara Rp8,8 jutaan hingga Rp14,8 jutaan per meter persegi.
Berdasarkan Data Analisis & Proyeksi Properti 2026 koranproperti.com, kenaikan harga tanah terjadi, disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya keterbatasan lahan, pertumbuhan populasi, pengembangan infrastruktur kota, kelengkapan fasilitas umum, serta tingginya permintaan lahan untuk investasi properti residensial maupun komersial.
Kota dan Kabupaten Serang
Menurut sejumlah data dari berbagai sumber (awal Februari 2026) yang ditelusuri koranproperticom, harga tanah di Serang, Banten, menunjukkan kenaikan bervariasi. Kawasan strategis atau pusat kota, seperti daerah Cimuncang dan Ciracas, mencapai harga Rp3 jutaan sampai Rp7 jutaan per meter persegi. Untuk kawasan industri atau suburban yaitu Jawilan, Anyar, Tirtayasa, berada di kisaran harga Rp300 ribuan hingga Rp1,6 jutaan per meter persegi.
BACA INI: Rumors Bertebaran: Masyarakat Ogah Beli Rusun Subsidi Meikarta, Benarkah?
Cikarang, Kota dan Kabupaten Karawang
Sementara itu, harga tanah di Kota dan Kabupaten Karawang, rata-rata berkisar antara Rp120.000 hingga lebih dari Rp15 jutaan per meter persegi. Kawasan premium seperti Karawang Barat dan Telukjambe mencapai harga tertinggi.
Harga tanah di Cikarang berkisar rata-rata antara Rp2 jutaan hingga Rp5 jutaan per meter persegi. Area premium seperti kawasan sekitar Lippo Cikarang mencapai Rp4 jutaan sampai Rp5 jutaan per meter persegi. Kawasan strategis seperti Jababeka dan Cikarang Barat, rata-rata di atas angka Rp3 jutaan per meter persegi.

Kota dan Kabupaten Bekasi
Harga tanah di Kabupaten Bekasi, rata-rata sekitar Rp10,9 jutaan per meter persegi. Untuk Bekasi Barat mencapai Rp10 jutaan sampai Rp15 jutaan per meter persegi, Bekasi Kota mencapai Rp5 jutaan sampai Rp10 jutaan per meter persegi. Sedangkan Bekasi Utara sekitar Rp2,5 jutaan hingga Rp5 jutaan per meter persegi.
Kota dan Kabupaten Tangerang
Harga tanah di Tangerang, berada di kisaran mulai dari Rp2,99 jutaan hingga Rp17,3 jutaan per meter persegi. Kawasan komersial strategis seperti BSD, Gading Serpong dan Serpong Raya, mencapai rata-rata sekitar Rp14 jutaan per meter persegi. Sedangkan area Cisauk dan Suvarna Sutera sekitar Rp3 jutaan sampai Rp6 jutaan per meter persegi.
BACA INI: Daya Beli Masyarakat Tertekan, Harga Rumah Subsidi Berpotensi Dikaji Ulang
Kota Depok
Harga tanah di Depok, sudah mencapai rata-rata antara Rp2,3 jutaan hingga Rp20 juta per meter persegi. Area strategis seperti Margonda, mencapai harga sekitar Rp17 jutaan per meter persegi.
Kota dan Kabupaten Bogor
Untuk harga tanah di Kota dan Kabupaten Bogor juga mengalami tren kenaikan. Kawasan premium seperti Sentul City mencapai rata-rata sekitar Rp10 jutaan per meter persegi. Sedangkan daerah Tenjo, juuga mulai merangkak naik dan harganya rata-rata sekitar Rp850 ribuan hingga Rp1,5 jutaan per meter persegi.
Investasi Rumah Tapak
Sejak memasuki tahun 2026, sejumlah pengembang properti, terus menanam investasi dan membeli sejumlah lahan di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Mereka siap membangun proyek properti rumah tapak dan area komersial baru, di daerah pinggiran atau penyangga kota Jakarta.
Hal itu terjadi, karena permintaan hunian tapak (landed house) hingga saat ini, terus meningkat dan menjadi incaran kelompok milenial, kelas menengah serta keluarga muda (pasutri baru menikah).
Sejumlah pengembang asing seperti Jepang, juga banyak menjalin kerja sama dengan pengembang lokal untuk menggarap proyek township dan kawasan komersial di pinggiran Kota Jakarta.
Kini, wilayah pinggiran Kota Jakarta, menjelma menjadi kawasan hunian alternatif yang menjanjikan pertumbuhan ekonomi baru, dan prospek investasi propertinya, menjanjikan meraup cuan besar untuk jangka pendek maupun panjang.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terbaru dunia properti melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news setiap hari.
Hotline Redaksi (WA) 0812 8934 9614
Email: redaksi@koranproperti.com


