Tren investasi properti kini tidak lagi didominasi generasi senior. Sebanyak 12 talenta muda potensial, mulai dari aktor, model, hingga musisi ternama, resmi menggeluti ilmu industri real estat dengan kuliah di Universitas Ciputra (UC) Jakarta. Sekumpulan investor muda ini berniat mentransformasi popularitas dan aset mereka, menjadi portofolio bisnis properti berkelanjutan.
KoranProperti.com (Jakarta) – Bagi generasi muda yang telah merintis portofolio di dunia bisnis real estat sejak dini, pendidikan tinggi tidak selalu harus menjadi pilihan, antara terus mengeksekusi proyek properti atau melanjutkan pendidikan. Justru, pengalaman mengelola aset dan proyek di lapangan, dapat menjadi modal utama untuk mengeskalasi nilai properti lebih jauh.
Fenomena itu terlihat di Universitas Ciputra (UC) Jakarta. Sebanyak 12 investor muda yang menggeluti industri properti, memilih melanjutkan pendidikan tinggi di UC Jakarta, dengan mendapatkan Multiple Intelligence Scholarship atau beasiswa sebagai bentuk apresiasi, terhadap penguasaan aset serta prestasi mahasiswa di luar capaian akademik formal.
Kehadiran mereka mencerminkan semakin luasnya definisi pengembang di kalangan generasi muda. Mereka tidak hanya berprestasi di atas kertas, tetapi juga telah membangun portofolio profesional di bidang perancangan landed house, manajemen komersial, desain interior, pemasaran properti, hingga investasi aset kreatif sejak usia muda.
Salah satunya adalah Adnanda Sj Immanuel Londok yang mengawali karier sebagai agen properti independen dan kemudian berkembang sebagai pengembang hunian, di berbagai kawasan berkembang. Selain aktif berinvestasi di sektor properti hunian, Adnanda juga memiliki minat besar pada pengembangan fasilitas olahraga, khususnya infrastruktur arena basket komersial.
Ada pula Angelina Josie Croise, yang memulai karier sebagai konsultan pemasaran aset komersial dan kemudian terlibat dalam berbagai proyek skala besar, mulai dari operasional unit high-rise, sinergi kawasan ritel, hingga kampanye pemasaran sejumlah developer nasional.
Sementara itu, Emiliano Fernando Cortizo menunjukkan profil portofolio aset yang lebih beragam. Memulai karier sebagai pengembang ruang kreatif cilik dan pemasar kawasan sejak 2015, Emiliano kemudian berkembang di berbagai lini sebagai pengembang ruang, penyedia konsep hospitality, pengelola ruang pertunjukan hiburan, hingga investor aset leisure.
Dia juga pernah terlibat dalam berbagai proyek pembangunan sarana hiburan, komplek komersial, perancangan ruang terbuka publik, hingga konsep kawasan terpadu.
Beragam rekam jejak pembangunan tersebut menjadi gambaran bagaimana generasi muda saat ini, dapat menguasai lebih dari satu sektor aset profesional sekaligus.
BACA INI: Daya Beli Segmen Atas Kokoh, Ciputra Group Persembahkan 2 Hunian Mewah di Sentul dan Jakarta
Universitas Ciputra melihat bahwa potensi aset dan kapasitas mahasiswa tidak hanya dapat diukur melalui indikator akademik. Kemampuan dalam perancangan arsitektur, akuisisi lahan, kreativitas pengembangan kawasan, tata kelola aset, maupun manajemen proyek juga merupakan bentuk kecerdasan dan potensi aset yang dapat terus dikembangkan.
Melalui Multiple Intelligence Scholarship, UC Jakarta memberikan ruang bagi investor muda dengan portofolio non-akademik untuk melanjutkan pendidikan tinggi, sekaligus mengeskalasi kemampuan property entrepreneurship mereka.
Campus Director Universitas Ciputra Jakarta Christina Eviutami Mediastika, S.T., Ph.D mengatakan, setiap anak muda memiliki keunggulan dan spesialisasi lahannya masing-masing. Ada yang unggul secara teori dan regulasi, ada yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang desain masterplan, pengelolaan kawasan komersial, hingga ekspansi lahan. Yang penting adalah bagaimana potensi lahan dan aset tersebut terus dapat diolah menjadi kompetensi yang bernilai jual tinggi bagi masa depan.
“Rekam jejak pengembangan proyek yang telah dimiliki para investor muda ini, justru dapat menjadi modal penting dalam proses pembelajaran bisnis properti,” tandas Prof. Christina.
Property Entrepreneurship Universitas Ciputra
Menurut Prof Christina, mereka datang ke kampus bukan sebagai lahan kosong. Mereka sudah memiliki pengalaman pengolahan aset, kedisiplinan konstruksi, jaringan mitra industri, dan pemahaman tentang dinamika pasar real estat. Tantangannya adalah bagaimana portofolio tersebut, dikembangkan menjadi kemampuan untuk menciptakan proyek kawasan yang lebih besar dan berkelanjutan.
Lebih jauh Prof. Christina memaparkan, bagi pengembang muda di industri properti, perjalanan karier tidak harus berhenti pada profesi sebagai agen, desainer interior, atau pengelola unit sewa. Seorang praktisi properti dapat mengembangkan personal brand dan portofolionya menjadi entitas bisnis developer, membangun proyek kawasan sendiri, mengelola aset skala besar, berkolaborasi dengan institutional investor, hingga menciptakan multiplier effect berupa lapangan pekerjaan baru melalui pembangunan kawasan.

“Di sinilah property entrepreneurship menjadi sangat relevan. Universitas Ciputra mengembangkan entrepreneurship bukan semata-mata sebagai kemampuan mendirikan perusahaan pengembang, tetapi sebagai mindset untuk melihat potensi lahan mati, menciptakan solusi ruang, berani mengambil inisiatif akuisisi, dan menghasilkan yield serta nilai tambah (capital gain) yang tinggi,” pungkas Christina.
Bagi generasi yang telah memasuki industri real estat sejak usia muda, tambah Christina, mindset tersebut dapat menjadi bekal untuk membangun portofolio investasi yang lebih tahan krisis dan adaptif.
“Lokasi strategis bisa menjadi pintu masuk awal, tetapi kemampuan menciptakan value creation yang berkelanjutan pada properti akan menentukan bagaimana aset tersebut dapat terus memberikan imbal hasil. Kami ingin mahasiswa memiliki keberanian untuk melihat dirinya bukan hanya sebagai pengelola unit, tetapi juga sebagai pencipta konsep (master planner) dan property entrepreneur,” urai Prof. Christina.
BACA INI: RUPST CTRA: Target Marketing Sales 2025 Rp11 Triliun, Tetap Optimalkan Program PPN DTP
Bergabungnya 12 investor muda ke UC Jakarta juga menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dan eksekusi proyek properti dapat berjalan secara berdampingan.
Bagi generasi Z, kampus dapat menjadi ruang untuk memperluas perspektif tata ruang, membangun jejaring investor, mengembangkan kemampuan analisis kelayakan bisnis (feasibility study), sekaligus mengubah pengalaman lapangan menjadi metodologi yang dapat digunakan untuk membuka peluang kawasan baru.
“Melalui ekosistem pendidikan property entrepreneurship, Universitas Ciputra Jakarta ingin mempersiapkan generasi muda bukan hanya untuk mengikuti tren pasar real estat, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan tolok ukur baru bagi industri properti di masa depan,” tegas Christina.
Kisah para investor muda yang bergabung dengan UC Jakarta, menjadi contoh bahwa portofolio berharga tidak selalu datang dalam bentuk indeks prestasi akademik. Potensi nilai tambah dapat hadir di atas lahan pembangunan, di area tapak bangunan, di meja maket perencanaan, di ruang diskusi proyek, maupun melalui konsep pengembangan ruang yang inovatif.
Sarana Pendidikan berfungsi sebagai ruang untuk mengubah potensi aset tersebut menjadi proyek nyata, peluang investasi, dan dampak ekonomi yang lebih besar.
Kehadiran 12 talenta muda di Universitas Ciputra Jakarta ini, secara langsung telah membuktikan bahwa masa depan industri properti tidak lagi hanya ditentukan oleh modal finansial semata, melainkan oleh keberanian mengeksekusi ide dan mengubah popularitas menjadi aset produktif.
Lewat ekosistem property entrepreneurship, mereka siap membuktikan bahwa generasi muda tak hanya mampu membeli ruang, tetapi juga lihai mendesain dan menguasai arah industri real estat untuk masa depan.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terbaru dunia properti melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news serta LIPRO TV setiap hari.
Hotline Redaksi (WA) 0812 8934 9614
Email: redaksi@koranproperti.com


