Dalam tiga bulan terakhir ini, sebenarnya harga bahan bangunan sudah mengalami kenaikan signifikan dan membuat sejumlah pengembang properti menjerit. Di sisi lain, investasi raksasa pembangunan jalan tol Serpong-Bogor membetot dana sebesar Rp 12,35 triliun, melalui skema KPBU murni, tanpa sokongan APBN.
KoranProperti.com (Jakarta) – Sektor properti di koridor Selatan Jakarta dan Barat Bogor diprediksi akan mengalami lonjakan nilai investasi tinggi, seiring semakin dekatnya realisasi proyek infrastruktur prestisius yaitu jalan Tol Serpong-Bogor melalui Parung.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyampaikan, proyek jalan tol sepanjang 32 KM itu, saat ini sedang memasuki tahap krusial dalam penyusunan perencanaan teknis. Progresnya sudah menyentuh angka mendekati 80 persen.“Kami percepat prosesnya agar perencanaan dapat selesai tahun ini,” ujar Dody di Jakarta, Jumat (22/5).
Investasi pembangunan jalan tol ini, membetot dana mencapai Rp12,35 triliun, melalui skema KPBU murni tanpa sokongan APBN. Kehadiran tol ini diproyeksikan menjadi game changer bagi mobilitas antarwilayah. Biasanya, durasi waktu perjalanan dari Bogor menuju Tangerang memakan waktu sangat lama akibat macet di jalur arteri, maka dengan adanya jalan tol ini, waktu tempuhnya hanya sekitar 45 menit.
Jalan tol ini akan dikelola PT Bogor Serpong Infra Selaras, yaitu konsorsium besar yang terdiri dari Jasa Marga, Adhi Karya, Hutama Karya Infrastruktur, dan Persada Utama Infra dengan masa konsesi mencapai 40 tahun. Secara teknis, proyek ini dibagi menjadi empat seksi strategis yaitu Seksi I Salabenda-Pondok Udik 3,97 KM, Seksi II Pondok Udik-Putat Nutug 9,27 KM, Seksi III Putat Nutug-Rumpin 8,23 KM, dan Seksi IV Rumpin-Serpong 10,56 KM.
BACA INI: Investasi Properti Melonjak! Telan Biaya Rp8,95 Triliun, Tol Bogor-Serpong Tuntas 2027
Kementerian PU menegaskan bahwa seluruh pembangunan akan mematuhi standar pelayanan minimal (SPM) dan aspek keselamatan konstruksi yang ketat. Selain meningkatkan efisiensi logistik nasional, tol ini diharapkan mampu memicu lahirnya pusat-pusat pertumbuhan properti baru (new economic hubs) di sepanjang rute yang dilalui.
Bagi pelaku industri properti, rampungnya tol ini berarti peningkatan capital gain dan yield pada aset-aset hunian maupun komersial di kawasan Serpong, Parung, hingga Bogor.
Pengembang Properti Menjerit
Bersamaan dengan pengembangan jalan tol Serpong-Bogor yang dikebut. Saat ini, bahan bangunan juga sudah mengalami kenaikan signifikan, akibatnya sejumlah pengembang menjerit. Di saat yang sama, kebijakan moneter melalui kenaikan BI Rate menjadi 5.25 persen, terus membayangi daya beli konsumen lewat potensi kenaikan suku bunga Kredit Kepemilikan Rumah (KPR).
Wakil Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Bambang Ekajaya, mengungkapkan bahwa para pengembang perumahan telah mengeluhkan kenaikan harga bahan bangunan sejak beberapa bulan terakhir. “Dampaknya, biaya konstruksi berpotensi mendorong kenaikan harga jual properti di pasar nasional,” tukas Bambang.
Menurut Bambang, industri properti semakin terjepit akibat kenaikan BI Rate yang berpotensi menaikkan suku bunga KPR perbankan, sehingga menciptakan tekanan kuat terhadap proyek properti untuk segmen rumah komersial non-subsidi.

“Bagi konsumen, kenaikan BI Rate akan membebani calon pembeli baru serta konsumen yang saat ini sedang mencicil KPR non-subsidi. Kalau ditambah bunga KPR juga naik, pasti membuat calon pembeli akan menahan diri,” tandas Bambang.
BACA INI: BI Rate 5,25 Persen: Konsumen KPR Menjerit, Begini Strategi Darurat Pengembang Menjaga Profit Margin
Di tempat terpisah, Ketua Pengawas Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) sekaligus Presiden Direktur PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) Christian Kartawijaya mengungkapkan, para pelaku industri harus berhadapan dengan tekanan biaya operasional yang naik tajam. Dalam beberapa bulan terakhir ini, para produsen bahan bangunan juga sudah menaikkan harga.
Christian mengaku, Indocement juga telah menaikkan harga kurang lebih sekitar Rp1.500 sampai Rp2.000 per kantong semen isi 50 kilogram.
Kenaikan bahan bangunan ini juga berdampak besar terhadap industri baja. Berdasarkan data Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), harga baja mengalami fluktuasi signifikan sejak awal tahun, karena dipengaruhi pergerakan harga energi global pada kuartal pertama tahun 2026.
Dari sejumlah data literasi yang ditelusuri koranproperti.com, kenaikan harga bahan bangunan ini, berdampak buruk,yaitu indutri properti dan konstruksi nasional dipastikan akan lesu. Seperti diketahui, industri properti memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang sangat besar terhadap ratusan industri turunan lainnya, seperti logistik, interior, dan tenaga kerja. Jika sektor ini melambat karena naiknya biaya bahan bangunan, maka pertumbuhan ekonomi nasional akan ikut anjlok.
Ketika harga semen, besi, dan baja melonjak tajam, biaya pembangunan infrastruktur negara maupun hunian swasta meningkat, yang pada akhirnya memicu inflasi nasional dari sisi penawaran (cost-push nflation). Menaikkan harga properti di saat daya beli publik lemah, ditambah lagi dengan kenaikan suku bunga (BI Rate), akan mengakibatkan risiko gagal bayar KPR atau kredit konstruksi pengembang meningkat, dan ini dapat mengancam stabilitas sektor keuangan nasional.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terbaru dunia properti melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news setiap hari.
Hotline Redaksi (WA) 0812 8934 9614
Email: redaksi@koranproperti.com

