Tingkat hunian sewa apartemen pada awal tahun ini, menunjukkan kenaikan tipis dan lebih banyak dipicu oleh faktor musiman. Pasar sewa apartemen di Jakarta sepi. Sejumlah pengembang apartemen tampaknya mulai banting setir, dan lebih siap mengembangkan rumah tapak untuk segmen kelas menengah.
KoranProperti.com (Jakarta) – memasuki semester kedua tahun 2026 ini, pasar sewa apartemen Jabodetabek, khususnya Jakarta sangat sepi. Sejumlah pengembang papan atas mulai banting setir untuk mengembangkan rumah tapak yang diperuntukkan bagi segmen kelas menengah.
Beberapa waktu lalu, Ketua Penelitian JLL Indonesia Yunus Karim mengatakan, tren properti menunjukkan bahwa 70 persen permintaan terfokus pada rumah tapak dengan harga di kisaran Rp1,2 miliaran.
Potensi rumah tapak yang diprediksi akan booming pada semester kedua tahun 2026 ini, langsung direspon sejumlah pengembang dengan menerapkan strategi yang beragam. Kini, sejumlah pengembang mulai menawarkan berbagai pilihan rumah tapak dengan harga yang bervariasi, dan terfokus pada segmen kelas menengah.
Transformasi proptech juga semakin memperkaya opsi konsumen dalam proses pembelian rumah. Seperti diketahui, sekarang ini beberapa pengembang juga sudah mulai secara aktif meluncurkan klaster baru di proyek perumahan yang sudah ada sebelumnya.
Hal ini menunjukkan optimisme pengembang terhadap permintaan pasar properti rumah tapak kelas menengah yang berkelanjutan, dibandingkan dengan mengembangkan apartemen.
Adanya Kekhawatiran soal kenaikan bunga kredit perbankan, ternyata tidak berpengaruh secara signifikan terhadap daya beli kelas menengah. Rumah tapak diperkirakan tetap menjadi pilihan utama, dibandingkan apartemen dan rumah tapak berpotensi booming di pertengahan tahun 2026 ini.
Pasar rumah tapak di Indonesia, terutama untuk segmen kelas menengah dengan harga maksimal Rp2 miliaran, telah menunjukkan potensi pertumbuhan yang sangat kuat.
Associate Director Research & Consultancy Department PT Leads Property Services Indonesia Martin Samuel Hutapea menilai, pengembangan pasar properti perlu memperhatikan siklus perumahan. Saat ini, khususnya rumah tapak, masih berada dalam siklus yang positif dan menjadi penggerak sektor properti di Indonesia.

Di tempat terpisah, Senior Associate Director Colliers Indonesia Ferry Salanto mengungkapkan, di tengah melandainya permintaan jangka panjang terhadap apartemen, sekarang ini yang menjadi prioritas utama para pengembang apartemen adalah menjaga loyalitas penyewa lama daripada mengejar margin keuntungan melalui kenaikan harga. Kawasan CBD tetap memegang posisi tawar yang lebih tinggi dibandingkan area non-CBD.
“Pasar apartemen sewa di Jakarta pada kuartal I tahun 2026 diawali dengan kehati-hatian. Sektor ini menunjukkan daya tahan yang unik, kendati pertumbuhan harganya melandai,” kata Ferry.
Tantangan Jangka Panjang Apartemen
Saat ini, tambah Ferry, Jakarta sedang melakukan penyesuaian ulang terhadap kebutuhan hunian vertikal. Stagnasi pembangunan baru pada kuartal pertama tahun 2026, terutama pasar apartemen sewa justru tidak datang dari proyek serviced apartment murni, melainkan dari penyelesaian kondominium sewa.
“Fluktuasi musiman dan tantangan jangka panjang tingkat hunian apartemen pada awal tahun ini, menunjukkan kenaikan tipis dan lebih banyak dipicu oleh faktor musiman, daripada pertumbuhan struktural yang massif,” tegas Ferry.
Lebih jauh Ferry memaparkan, dengan akan dibukanya Apartemen Indonesia 1 pada tahun 2029 mendatang, dia memberikan catatan kritis mengenai keberlanjutan tren apartemen. Dalam kuartal pertama, secara historis merupakan periode paling sunyi bagi mobilitas korporat. Keputusan relokasi dan pembaruan kontrak sewa, biasanya baru mencapai puncaknya pada kuartal kedua dan ketiga.
“Saat ini, permintaan apartemen didominasi oleh pembaruan kontrak daripada kedatangan penyewa baru. Perusahaan multinasional lebih berhati-hati dalam memutuskan relokasi,” ungkap Ferry,
BACA INI: Pangsa Pasar Apartemen 2026, Begini Spesifikasi Apartemen Sasaran Konsumen Domestik & Ekspatriat
Menurut Ferry, saat ini tarif sewa apartemen juga masih relatif stabil di level rata-rata Rp261.181 per meter persegi per bulan, dan tidak ada lonjakan harga yang signifikan,
Untuk meningkatkan daya sewa apartemen, saat ini sejumlah operator apartemen tidak hanya menyediakan ruang tinggal semata, tetapi juga menerapkan praktik ramah lingkungan dalam pengelolaan energi dan air.
“Sertifikasi hijau juga mulai dipandang sebagai keharusan, bukan lagi sekadar aksesori pemasaran. Hal ini merupakan respons terhadap standar pengadaan akomodasi dari klien korporat multinasional yang semakin ketat dalam menyeleksi hunian,” tutup Ferry.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terbaru dunia properti melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news setiap hari.
Hotline Redaksi (WA) 0812 8934 9614
Email: redaksi@koranproperti.com

