Banyak yang tidak tahu bahwa suhu Jakarta telah melonjak 1,6 derajat Celcius dalam 130 tahun terakhir. Namun, yang lebih mengejutkan lagi adalah bagaimana perubahan suhu ini mampu memperpendek umur bangunan tinggi, sekaligus memaksa para ahli konstruksi untuk segera mengubah total standar keamanan gedung yang selama ini sudah dianggap aman.
KoranProperti.com (Jakarta) – Fenomena perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang melanda Indonesia akhir-akhir ini, tidak lagi hanya sekadar menjadi isu lingkungan biasa, melainkan telah menjelma menjadi ancaman nyata bagi industri properti nasional.
Lonjakan intensitas hujan, peningkatan suhu udara yang drastis, serta pola cuaca yang kian tak menentu, memaksa para pengelola apartemen dan bangunan tinggi di tanah air untuk memutar otak, demi menjaga ketahanan fisik bangunan dan menekan pembengkakan biaya pemeliharaan.
Isu krusial ini mengemuka sebagai fokus utama dalam seminar nasional bertajuk “Dampak Perubahan Ekstrem Cuaca Terhadap Perawatan Apartemen” yang diinisiasi Jurnalis Media Network (JMN) berkolaborasi dengan Ikatan Manajer Real Estate Indonesia (IMREI) serta Aquaproof, di Menara BPJamsostek, Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Ketua Umum IMREI Dance Aquarianto menegaskan bahwa seluruh pengelola gedung di Indonesia wajib memasukkan faktor cuaca ekstrem, sebagai salah satu risiko operasional utama yang harus diantisipasi secara matang.
“Cuaca ekstrem tidak dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui pengelolaan gedung yang proaktif. Pengelola tidak bisa lagi hanya bersikap reaktif setelah kerusakan terjadi, melainkan harus membangun sistem pemeliharaan dan mitigasi risiko yang terencana,” tegas Dance.
Menurut analisisnya, dampak dari curah hujan ekstrem, badai angin kencang, sengatan suhu panas, hingga sambaran petir, berpotensi merusak berbagai lini vital bangunan, mulai dari kebocoran struktural, kerusakan fasad, gangguan sistem mekanikal dan elektrikal (ME) hingga lonjakan tajam pada biaya operasional harian.
BACA INI: Tata Kelola Industri Properti Belum Profesional, Ini Solusi IMREI
Dari sudut pandang teknis konstruksi, ketahanan bagian luar bangunan atau fasad menjadi sorotan utama. PLT Senior Project Manager PT Adhi Persada Gedung Ir. Aroka Aryadeta, MMT menjelaskan, fasad memikul peran krusial sebagai perisai utama struktur bangunan dalam menghadapi hantaman hujan badai, tekanan angin di ketinggian, serta radiasi sinar ultraviolet (UV). Kelalaian dalam merawat komponen ini, bisa berakibat fatal bagi keselamatan penghuni dan nilai aset.
“Biaya perbaikan fasad yang dilakukan setelah kerusakan terjadi (reaktif) dapat mencapai tiga kali lipat lebih mahal, dibandingkan dengan biaya pemeliharaan preventif (pencegahan) yang dilakukan secara berkala,” ungkap Aroka.
Oleh sebab itu, Aroka mendorong pihak manajemen gedung harus segera memulai memanfaatkan teknologi modern seperti pemindaian drone, termografi inframerah, dan sistem Building Information Modeling (BIM) untuk mendeteksi keretakan sejak dini yang berbasis data.
Urgensi Integrasi ESG
Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas IMREI sekaligus Ketua Umum Forum QHSE BUMN Konstruksi, Ir. Subkhan, S.T., M.PSDA, IPU, ASEAN Eng mengaitkan tantangan iklim ini dengan pentingnya implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
“Mengingat sektor properti menyumbang emisi karbon dan konsumsi energi yang masif, penerapan ESG kini menjadi instrumen wajib untuk meningkatkan daya saing bisnis dan membuka akses pendanaan hijau global,” tandas Subkhan.
Menurut Subkhan, langkah konkret seperti efisiensi energi bangunan, digitalisasi manajemen gedung, keselamatan kerja, serta pengelolaan limbah berbasis prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), harus segera diadopsi sebagai standar baru pengelolaan properti modern.

Menjawab tantangan percepatan degradasi material akibat suhu permukaan Jakarta yang dilaporkan telah melonjak hingga 1,6 derajat Celcius dalam 130 tahun terakhir, industri penyedia bahan bangunan mau tidak mau dipaksa melakukan inovasi. PT Adhi Cakra Utama Mulia (Aquaproof) memperkenalkan strategi proteksi total yang adaptif terhadap iklim global.
BACA INI: Tiga Institusi Gelar Kesepakatan Kerjasama, Prioritas Utama Lindungi Konsumen Properti
Head of Project Business Division PT Adhi Cakra Utama Mulia Samudra Sinulingga menyatakan, standar ketahanan bangunan masa lalu sudah tidak lagi memadai untuk iklim ekstrem sekarang. Sebagai solusi praktis, dia memperkenalkan konsep One Building Complete Protection System yang membagi perlindungan pada area-area kritis, seperti Aquaproof Pro memberi perlindungan khusus area dak atap dan roof deck. Kemudian, Hydrostop berfungsi memproteksi dinding basement dan area dengan tekanan air tinggi. Sedangkan Aquaproof akan melindungi dinding eksterior dan fasad utama dari retak rambut, dan yang terakhir yaitu Conseal yakni solusi praktis perlindungan nat keramik tanpa perlu pembongkaran.
Melalui integrasi pemeliharaan preventif berbasis data, penerapan prinsip kelestarian ESG, dan penggunaan teknologi material yang tepat, para pelaku industri optimistis ketahanan properti di Indonesia dapat terjaga.
Ke depan, nilai dan daya saing sebuah bangunan tinggi tidak lagi hanya diukur dari angka okupansi semata, melainkan dari seberapa tangguh bangunan itu mampu bertahan menghadapi tantangan perubahan iklim alam.
Menghadapi suhu Jakarta yang melonjak 1,6°C dan cuaca ekstrem yang kian tak menentu, industri properti dipaksa untuk “naik kelas”. Integrasi teknologi mutakhir seperti drone, penerapan prinsip ramah lingkungan (ESG), serta sistem proteksi total dari hulu ke hilir bukan lagi sekadar tren atau gaya-gayaan.
Ini adalah tameng wajib agar bangunan tinggi di Indonesia tidak runtuh nilainya, dan tetap menjadi tempat bernaung yang aman bagi penghuninya.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terkini dunia properti dan bahan bangunan melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news setiap hari.


