Di tengah lesunya pasar properti dan melambatnya persetujuan KPR perbankan, tidak membuat PT Perdana Gapuraprima Tbk (GPRA) patah arang. Demi memancing kembali minat beli konsumen, pengembang kakap ini langsung banting setir menggarap rumah murah di bawah Rp600 jutaan, lengkap dengan skema cicilan anti-naik.
KoranProperti.com (Jakarta) – Emiten pengembang properti PT Perdana Gapuraprima Tbk (GPRA) memasang sikap optimistis menghadapi paruh kedua tahun ini. Pengembang yang dikenal lewat proyek hunian dan komersialnya ini, membidik pertumbuhan pendapatan sebesar 5 hingga 10 persen secara tahunan (year-on-year) hingga akhir 2026.
Presiden Direktur GPRA Arvin Fibrianto Iskandar mengungkapkan, realisasi pra-penjualan (marketing sales) Perseroan sepanjang semester I-2026 masih berjalan sesuai jalur (on track), meskipun belum sepenuhnya melompat tinggi sesuai ekspektasi pasar. Sepanjang periode Januari-Juni 2026, GPRA berhasil mengantongi marketing sales di kisaran Rp200 hingga Rp250 miliar.
“Untuk marketing sales, penjualan tetap ada dan bagus. Kurang lebih di semester pertama ini, performa penjualan mencapai Rp200 sampai Rp250 miliar,” ujar Arvin dalam Paparan Publik Perseroan di Jakarta, Senin (29/6/2026).
Arvin tidak menampik adanya sejumlah batu sandungan yang menahan laju percepatan pasar properti di awal tahun. Lambatnya proses persetujuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) perbankan, serta banyaknya hari libur pada kuartal I, menjadi faktor utama lemahnya aktivitas transaksi.
Namun, tambahnya, memasuki semester II-2026, GPRA memproyeksikan pasar akan bergerak lebih cair seiring membaiknya efisiensi persetujuan kredit perbankan, dan meningkatnya kembali aktivitas pasar.
“Kami harapkan pada kinerja semester kedua ini bisa lebih baik. Target Perseroan, setidaknya dalam paruh pertama ini sudah mengamankan sekitar 90 persen dari porsi target semesteran sebesar Rp250 miliar,” katanya dalam siaran pers, Senin (30/6/2026).
Meskipun industri properti nasional dibayangi tantangan suku bunga tinggi, tekanan inflasi, dan ketidakpastian global, GPRA melihat celah pasar gemuk di segmen menengah ke bawah (affordable housing).
Untuk mengantisipasi hal itu, strategi intervensi Perseroan kini difokuskan pada pengembangan hunian dengan harga bersahabat di bawah Rp600 juta.
Untuk mendongkrak daya beli, GPRA telah menempuh sejumlah langkah taktis di antaranya, yaitu melakukan perluasan terhadap akses pembiayaan melalui kemitraan strategis dengan BPJS Ketenagakerjaan, dengan tujuan untuk mempermudah akses kepemilikan rumah bagi pekerja.
Kemudian, menawarkan skema KPR dengan bunga tetap (fixed rate) sepanjang masa kredit untuk memberikan kepastian cicilan bagi konsumen.
Setelah itu, Perseroan akan mempercepat ketepatan waktu pembangunan (delivery time) serta konsisten menggulirkan inovasi desain produk properti.
Ekspansi Akuisisi Lahan
Tahun ini, GPRA mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp400 miliar. Dana segar itu dianggarkan secara berimbang untuk membiayai kelanjutan proyek berjalan sekaligus ekspansi akuisisi lahan (landbank) baru. Hingga pertengahan tahun, serapan capex baru menyentuh angka Rp100 miliar.
Adapun roda portofolio GPRA tahun ini akan ditopang oleh sejumlah proyek utama, di antaranya, Botanica Cibubur, The Botanica Signature Padjajaran dan Puri Semanan Residence.
Di samping ketiga proyek itu, perseroan juga terus memacu penetrasi pasar lewat peluncuran sejumlah klaster baru di beberapa proyek eksis (existing).

Dalam rangka memperkuat struktur pembiayaan dan menyokong ekspansi proyek jangka panjang, manajemen GPRA mengonfirmasi bahwa saat ini pihak Perseroan sedang mengkaji berbagai alternatif aksi korporasi. Salah satu opsi kuat yang masuk dalam radar Perseroan yaitu right issue.
Menariknya, skema right issue ini tidak hanya mengandalkan setoran dana tunai. GPRA membuka peluang pelaksanaan lewat mekanisme inbreng (penyetoran modal dalam bentuk aset non-tunai). Langkah ini dibidik untuk mengambil alih, atau mengakuisisi aset maupun bisnis strategis yang punya prospek pertumbuhan tinggi.
“Ada beberapa poin rencana untuk menambah produk-produk baru atau masuk ke dalam lini bisnis terafiliasi. Skema ini nantinya akan membuat fundamental GPRA semakin solid, dengan nilai aset yang bertambah signifikan,” tandas Arvin.
BACA INI: Tenjojaya Rejuvenate Village Garapan CSIS, Hunian Global Ramah Lingkungan
Optimisme semester kedua ini diharapkan mampu membalikkan performa keuangan kuartal pertama yang sempat tertekan. Berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026, GPRA membukukan penjualan bersih sebesar Rp80,95 miliar, terkoreksi 39 persen, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp132,85 miliar.
Penyusutan top-line tersebut turut menekan posisi dasar laba bersih perseroan menjadi Rp6,38 milar pada kuartal pertama tahun ini, dari sebelumnya Rp37,31 miliar pada kuartal I-2025. Perseroan optimistis momentum kebangkitan pasar di semester dua, akan mengompensasi perlambatan di awal tahun.
Strategi GPRA meluncurkan rumah murah dengan bunga KPR tetap, dan menggandeng BPJS Ketenagakerjaan merupakan jawaban nyata atas lesunya daya beli masyarakat. Jika eksekusi pembangunan klaster baru GPRA berjalan tepat waktu, maka pada paruh kedua tahun ini, tidak hanya akan menyelamatkan rapor keuangan Perseroan, tetapi juga menjadi angin segar bagi para pemburu rumah pertama.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terbaru dunia properti melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news setiap hari.
Hotline Redaksi (WA) 0812 8934 9614
Email: redaksi@koranproperti.com

