Peta kekuatan pasar properti Jakarta berubah total. Penyewa tidak lagi berburu status, melainkan efisiensi dan konektivitas. Pengembangan kawasan hunian berbasis transit atau TOD menjelma menjadi magnet baru peta investasi properti Jakarta
KoranProperti.com(Jakarta) – Perkembangan dan pertumbuhan properti di dalam kawasan Transit-Oriented Development (TOD) atau pembangunan berorientasi transit di Jakarta, telah mengalami transformasi fundamental, bergeser dari sekadar wacana tata kota, menjadi pencetak nilai (value creator) utama di pasar properti.
Berdasarkan dinamika dan laporan riset pasar properti terbaru, perkembangan dan pertumbuhan properti berbasis TOD di Jakarta telah mengalami proses panjang.
Secara historis, daya tarik aset properti (terutama perkantoran dan hunian) sangat bergantung pada alamat prestisius atau lokasi di pusat kawasan bisnis (CBD). Namun, tren terkini menunjukkan perubahan besar, yaitu CBD masa depan tidak lagi dinilai semata-mata dari nama jalan atau kawasan, melainkan dari seberapa baik kawasan itu menghubungkan masyarakat, bisnis, dan peluang aktivitas harian.
Kemudian, perusahaan/penyewa (occupiers) juga semakin selektif. Konektivitas dengan moda transportasi massal (MRT, LRT, KRL, TransJakarta), kini diposisikan sebagai kebutuhan utama, untuk efisiensi operasional dan daya saing bisnis jangka panjang.
Perkembangan kawasan TOD memberi dampak berantai (multiplier effect) terhadap berbagai sub-sektor properti di sekitarnya, di antaranya dalam sektor perkantoran (Office) telah terjadi tren flight-to-quality, yaitu para penyewa aktif berburu gedung-gedung premium grade dan grade A yang menawarkan spesifikasi modern, fitur ramah lingkungan (sustainability), dan akses langsung/dekat ke hub transit.
BACA INI: Properti Jakarta 2026: Okupansi Perkantoran CBD & Mal Elit Tinggi, Kondominium ‘Wait and See’
Gedung perkantoran yang terintegrasi dengan moda transit mencatatkan penyerapan ruang yang jauh lebih stabil dan prospek kenaikan tarif sewa lebih kuat, dibandingkan gedung terisolasi.
Sedangkan untuk sektor ritel dan pusat perbelanjaan yang berada di sekitar hub TOD, bisa menikmati tingkat kunjungan (foot traffic) stabil, akibat tingginya kunjungan komuter.
Konsep lifestyle center, seperti ruang terbuka hijau, tempat kuliner (F&B) premium, dan hiburan berbasis transit, juga terus tumbuh pesat dan mencatatkan okupansi sangat kuat.
Kawasan Hunian Multifungsi Jakarta
Bagi sektor hunian residential & mixed-use, terutama permintaan terhadap hunian vertikal (apartemen) dan kawasan multifungsi (mixed-use) yang menempel pada stasiun transit melonjak tajam, terutama dari kalangan profesional muda dan milenial yang memprioritaskan efisiensi waktu tempuh.
Head of Research & Consulting Anton Sitorus dalam pembukaan acara media briefing CBRE Indonesia menyampaikan, penyewa semakin selektif dengan memprioritaskan kualitas, aksesibilitas, efisiensi operasional, dan nilai jangka panjang (long-term value).
“Di berbagai sektor, penyewa dan tenant tetap aktif, dan kami melihat minat yang semakin besar terhadap pengembangan yang menggabungkan properti berkualitas dengan konektivitas transportasi yang kuat, terutama di sekitar lokasi hub transportasi,” kata Anton.

Di sektor perkantoran, Co-Heads of Office Services CBRE Indonesia Albert Dwiyanto melaporkan, berlanjutnya momentum penyewaan di kawasan CBD maupun Non-CBD. Di kawasan CBD Jakarta, penyerapan bersih tercatat mencapai sekitar 16.800 meter persegi, pada kuartal kedua yang mendorong tingkat okupansi naik menjadi 76,3 persen.
“CBD masa depan ditentukan oleh seberapa baik kawasan itu menghubungkan masyarakat, dunia usaha, dan berbagai peluang. Konektivitas bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan telah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong daya saing bisnis dalam jangka panjang,” tukas Albert.
Pasar perkantoran Non-CBD Jakarta mencatatkan penyerapan bersih yang cukup solid sebesar 12.900 meter persegi, sehingga tingkat okupansi terangkat menjadi 73,3 persen. Permintaan di area Non-CBD tetap terkonsentrasi pada gedung-gedung berkualitas tinggi di lokasi dengan aksesibilitas yang terus berkembang, ditopang oleh langkah relokasi penyewa serta strategi optimalisasi ruang kerja.
Pasar pusat perbelanjaan dan ritel di Jakarta juga turut mengukir kinerja positif sepanjang kuartal kedua tahun ini. Tingkat okupansi mal secara umum naik menjadi 86,4 persen, didukung oleh total penyerapan bersih yang melampaui angka 20.000 meter persegi.
Mal kelas premium mencatatkan performa paling menonjol dengan tingkat okupansi bertahan di atas 95 persen. Penyerapan ruang ritel ini, didorong oleh agresivitas ekspansi pelaku usaha ritel internasional, tempat kuliner premium, merek-merek lifestyle, serta operator hiburan.
Peningkatan mobilitas warga kini menjadi faktor penentu utama dalam pemilihan lokasi oleh penyewa, maupun dalam perumusan strategi investasi properti di seluruh penjuru kota.
Pertumbuhan properti dalam kawasan TOD di Jakarta bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan fondasi utama dari pengembangan kawasan perkotaan (urban development) masa depan.
Dengan terus berkembangnya jaringan transportasi publik, properti berbasis TOD akan terus mendominasi penyerapan pasar, mendorong pertumbuhan tarif sewa, dan menjadi mesin utama pencetak nilai ekonomi (long-term value creation) di Jakarta.
Sekarang ini, lanskap properti Jakarta sedang mengalami transformasi terbesar dalam sejarah perkotaan. Bagi para pelaku usaha, investor, maupun pemburu properti, pesan dari tren ini sangat jelas, yaitu kini konektivitas bukan lagi hanya sekadar fasilitas tambahan, melainkan kunci utama untuk mencetak nilai properti yang tak tergerus waktu.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terkini dunia properti dan bahan bangunan melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news setiap hari.

