Berbanding terbalik dengan kantor dan mal, pasar apartemen atau kondominium justru lagi adem ayem. Dalam satu tahun terakhir ini, hampir tidak ada proyek baru yang diluncurkan pengembang. Investasi sektor properti komersial di Jakarta, ternyata masih sangat menarik dengan catatan aset properti itu harus mampu beradaptasi dengan tren keberlanjutan, dan pengalaman pengguna yang lebih modern.
KoranProperti.com (Jakarta) – Memasuki awal tahun 2026 hingga saat ini, wajah pasar properti Jakarta masih penuh dengan tanda tanya, karena diliputi ketidakpastian ekonomi domestik maupun global. Namun, ada sektor properti yang lagi gaspol karena permintaannya terus tinggi, tapi ada juga yang masih pilih main aman.
Anda tentu masih ingat masa-masa kantor sepi karena Work From Home (WFH)? Sepertinya masa itu sudah lewat. Sekarang, perusahaan-perusahaan besar mulai balik lagi ke kawasan Central Business District (CBD).
Data terbaru dari JLL Indonesia menunjukkan, tingkat hunian kantor di CBD stabil di angka 72 sampai 73 persen. Menariknya, permintaan sewa di awal tahun 2026, melonjak dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.
Banyak perusahaan melakukan strategi flight-to-quality alias pindah ke gedung yang lebih bagus dan mewah, untuk meningkatkan gengsi serta kenyamanan karyawan.
Akibat tidak adanya gedung baru yang dibangun, maka harga sewa kantor Grade A di Jakarta naik sekitar 0,95 persen. Sekarang ini, lagi tren kantor full furnished (siap pakai). Jadi, penyewa tinggal bawa laptop dan langsung kerja.
Khusus untuk sektor properti komersial, seperti mal atau pusat perbelanjaan modern, justru kabarnya semakin menggembirakan, karena setiap hari mal yang banyak bertebaran di Jakarta itu, pengunjungnya semakin ramai. Sektor ritel lagi happy, karena tingkat okupansinya melesat hingga tembus 86 persen sampai 90 persen.
Ada beberapa faktor yang membuat orang keranjingan datang ke mal. Ternyata, selain untuk menikmati makanan dan minuman (F&B), tren produk teh asal China dan parfum mewah internasional, sekarang ini sudah menjadi pendorong utama tingkat okupansi.
Ekspansi merek-merek internasional itu, membuat sejumlah mal premium di Jakarta, khususnya wilayah Selatan makin hidup dan dinamis. Apalagi dengan hadirnya Pondok Indah Mall 5 (PIM 5) dan beberapa pusat perbelanjaan berkonsep semi outdoor baru, terbukti bahwa daya beli masyarakat masih berjalan normal.
Berbanding terbalik dengan kantor dan mal, pasar apartemen atau kondominium justru lagi adem-ayem. Dalam satu tahun terakhhir ini, hampir tidak ada proyek baru yang diluncurkan pengembang.
Perubahan itu, terjadi karena ada pergeseran selera. Milda Abidin dari JLL Indonesia menyebut, kalau milenial dan Gen Z lebih melirik rumah tapak di pinggiran kota (daerah penyangga). Alasannya simpel yaitu harga kondominium di pusat kota makin tinggi (rata-rata Rp59 juta per meter persegi), tapi ukurannya dinilai terlalu kecil buat ditempati. Saat ini, pembeli kondominium, kebanyakan adalah end-user yang mengejar diskon pajak (PPN) dari Pemerintah.
Progres Pergudangan Logistik Modern
Sektor properti lain yang juga lagi cerah di tahun 2026 ini adalah pergudangan logistik. Umumnya kawasan pergudangan dan logistik ini, terpusat di Bekasi dan Cikarang. Bisnis pergudangan logistik modern lagi laku keras, akibat menjamurnya belanja online dan ekspansi industri otomotif. Tingkat huniannya mencapai 89 persen. Hal ini membuktikan kalau urusan kirim-mengirim barang masih menjadi salah satu tulang punggung ekonomi dalam negeri.
Meskipun ekonomi global masih penuh ketidakpastian, properti Jakarta tetap tangguh. Kuncinya ada pada adaptasi gedung kantor yang lebih menarik, mal yang lebih asyik buat nongkrong, dan gudang yang efisien.

Berdasarkan Data Analisis & Proyeksi Properti 2026 koranproperti.com, prospek investasi dan okupansi mal dan perkantoran di Jakarta dalam 5 (lima) tahun ke depan (2026-2031) masih menunjukkan fase pertumbuhan yang stabil. Keberadaan mal dan perkantoran di Jakarta, bukan lagi hanya sekadar membangun gedung semata, kini fokus investor beralih kepada kualitas dan pengalaman, selera dan kebutuhan pengguna.
Pasar properti perkantoran di Jakarta diprediksi akan mengalami rebound bertahap. Meskipun budaya kerja hibrida masih ada. Kebutuhan terhadap kantor secara fisik di pusat kota, tetap tinggi sebagai simbol prestisius.
Keberadaan gedung perkantoran di Jakarta akan lebih didominasi Grade A & Green Building. Investor akan lebih tertarik kepada gedung yang memiliki sertifikasi hijau (ESG compliance). Kini, perusahaan multinasional mewajibkan kantor hemat energi, sehingga gedung perkantoran lama yang tidak berbenah berisiko kehilangan penyewa.
Minimnya proyek baru di kawasan Sudirman-Thamrin dalam beberapa tahun ke depan menjadi keuntungan bagi pemilik gedung. Dengan pasokan yang terkendali, tingkat hunian diproyeksikan tumbuh moderat sekitar 2 persen sampai 2,5 persen per tahun.
Gedung-gedung perkantoran yang memiliki akses langsung ke MRT dan LRT juga akan menjadi aset paling berharga. Kawasan seperti Dukuh Atas dan Lebak Bulus akan tetap menjadi titik fokus investasi dan okupansi.
Tren perkantoran yang sudah dilengkapi furnitur (plug and play) akan mempermudah perusahaan rintisan (startup) dan UMKM untuk menyewa ruang, sehingga mempercepat penyerapan pasar.
Sementara itu, keberadaan pusat perbelanjaan modern alias mal, tidak lagi hanya menjadi tempat belanja semata, tetapi telah bertransformasi menjadi pusat rekreasi dan sosial. Strategi ini terbukti ampuh untuk menjaga daya tarik investasi ritel di Jakarta.
Mal-mal yang banyak bertebaran di Jakarta, dalam 10 tahun ke depan akan mempercepat penerapan konsep sirkulasi udara alami dan ruang terbuka hijau (kombinasi indoor dan outdoor), karena model mal seperti ini akan lebih banyak diminati pengunjung, dibandingkan dengan konsep mal konvensional tertutup (menggunakan AC ruangan dan tidak memiliki area terbuka hijau).
Mal akan semakin dibanjiri pengunjung, bila pihak manajemen pengelola mal mampu membawa merek-merek dagang yang viral di media sosial (seperti teh China kekinian atau merek parfum mewah internasional). Sektor Food & Beverage (F&B) dan hiburan, tetap akan menjadi penyewa utama yang mengisi hingga 30 sampai 40 persen area mal. Mal-mal kelas atas, diprediksi tetap stabil dengan tingkat hunian di atas 90 persen.
Untuk saat ini sampai 10 tahun kedepan, investasi di sektor properti komersial di Jakarta masih sangat menarik, dengan catatan aset properti itu harus mampu beradaptasi dengan tren keberlanjutan, selera, kebutuhan dan pengalaman pengguna yang lebih modern.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terbaru dunia properti melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news setiap hari.
Hotline Redaksi (WA) 0812 8934 9614
Email: redaksi@koranproperti.com

