Antrean membludak dan etalase sekitar 360 ribu unit rumah dipajang, namun dompet pengunjung Danantara Housing Expo 2026, tampaknya masih enggan terbuka lebar. Diwarnai keluhan minimnya feeder transportasi hingga carut-marut fasilitas pameran, ajang properti yang disebut-sebut terbesar tahun ini, berakhir dengan capaian transaksi yang jauh dari kata memuaskan.
KoranProperti.com (Jakarta) – Pameran properti Danantara Housing Expo 2026 yang diinisiasi Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) berakhir Minggu (30/8/2026).
Pameran yang berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 27 hingga 30 Agustus 2026 itu, faktanya hanya membukukan realisasi transaksi sebesar Rp2 triliun, angka ini meleset telak dari target awal sebesar Rp10 triliun.
Perolehan Rp2 triliun itu, sudah meliputi berbagai skema pembiayaan perumahan, baik komersial maupun subsidi dari bank-bank Himpunan Bank Negara (Himbara) dan pengembang properti. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk memboyong nilai transaksi tertinggi yaitu Rp400 miliar.
Gelaran Properti ini juga menawarkan lebih dari 360 ribu unit hunian yang terbagi dalam zona First Home, Family Home, hingga Premium Living. Pengembang BUMN turut berpartisipasi dengan menawarkan 16.559 unit rumah, dari 98 proyek dengan total nilai mencapai Rp9,79 triliun.
Meski hasil transaksi akhir pameran meleset telak dari target utama, pihak penyelenggara masih mengklaim bahwa esensi utama acara ini adalah terbangunnya minat, serta akses masyarakat yang lebih luas terhadap kepemilikan hunian.
Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria menegaskan bahwa angka tersebut murni realisasi closing transaksi, di luar prospektus dan booking.
BACA INI: Danantara Housing Expo 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan Rumah Subsidi Seharga Rp380 Jutaan
“Artinya target kita untuk transaksi terjadi, closing itu sudah tercapai di luar prospektus dan juga booking,” ujar Dony yang juga menjabat Kepala BP BUMN, Minggu (30/8/2026).
Dalam kesempatan yang sama, CEO BPI Danantara Rosan Roeslani mengatakan bahwa pameran ini memiliki peran sangat strategis untuk mendukung program perumahan nasional dari Pemerintah.
“Danantara Housing Expo 2026 merupakan wujud sinergi ekosistem BUMN dalam mendukung Program 3 Juta Rumah Pemerintah bagi masyarakat,” ungkap Rosan.
Sedangkan Menteri PKP Maruarar Sirait menyatakan, pameran dirancang sebagai wadah integrasi seluruh pemangku kepentingan sektor properti di tanah air.
Evaluasi Kritis Bagi Danantara
Untuk menarik minat konsumen, perbankan Himbara juga menghadirkan berbagai produk dan promo khusus selama pameran, di antaranya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, menawarkan program BRIguna Karya dengan penawaran suku bunga mulai 8,17 persen per tahun, serta diskon premi Asuransi Jiwa Kredit (AJK) sebesar 17 persen.
Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, meluncurkan fitur KPR Cermat pada produk BNI Griya yang memberikan potongan suku bunga hingga 1 persen per tahun, berdasarkan perhitungan rata-rata saldo tabungan nasabah.
BACA INI: Menuju Tiga Hari Digelar, Presale Danantara Housing Expo 2026 Raup Rp800 Miliar
Meski sukses menggaet animo masyarakat, pelaksanaan Danantara Housing Expo 2026 tidak lepas dari catatan kritis dan keluhan pengunjung. Beberapa masalah teknis banyak disorot pengunjung, antara lain minimnya sosialisasi, website Danantara Housing Expo 2026 sebelum pameran digelar tidak bisa dibuka alias selalu eror di komputer (PC), keterbatasan titik suplai makanan (food court), serta terbatasnya frekuensi moda transportasi bus penjemput (feeder) dari pusat kota menuju lokasi pameran.

Hasil transaksi akhir pameran yang hanya sebesar Rp2 triliun ini, jelas menjadi tamparan keras bagi Danantara Housing Expo 2026 dan Kementerian PKP, serta lembaga terkait lainnya.
Meski sejumlah perbankan sudah mengucurkan promo KPR dan pengembang memajang ribuan unit hunian, faktanya transaksi yang terjadi meleset sebesar 80 persen dari target awal.
Di sisi lain, sejumlah oknum pejabat Danantara dan Kementerian atau lembaga yang membidangi sektor perumahan rakyat, wajib melakukan evaluasi dan introspeksi diri, saat mengambil keputusan atau mengadakan event besar yang berhubungan langsung dengan kepentingan masyarakat, khususnya program perumahan rakyat.
Dari hasil transaksi gelaran properti selama 4 hari ini dapat disimpulkan bahwa pameran properti bukanlah sarana paling efektif untuk menggaet calon pembeli rumah. Pameran properti lebih layak disebut sebagai ajang pamer properti belaka. Sedangkan program perumahan nasional, harus dan wajib memenuhi kesiapan ekosistem perumahan nasional secara total dan menyeluruh.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terbaru dunia properti melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news serta LIPRO TV setiap hari.
Hotline Redaksi (WA) 0812 8934 9614
Email: redaksi@koranproperti.com

