Harga minyak secara global berpotensi melonjak tajam, bila perang Amerika Serikat (AS) plus Israel melawan Iran berkelanjutan. Harga properti juga dipastikan berpotensi naik. Bila hal ini terjadi, maka akan berdampak buruk terhadap pembiayaan pembangunan perumahan nasional.
KoranProperti.com (Jakarta) – Perang terbuka antara Amerika Serikat plus Israel melawan Iran, dipastikan akan membuat harga minyak dunia secara global melonjak naik.
Kenaikan harga minyak secara global ini, otomatis akan mempengaruhi kenaikan biaya hidup, sekaligus menyulitkan alokasi dana untuk pembelian rumah, khususnya bagi kelompok pembeli rumah pertama di Indonesia.
Hal itu disampaikan Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto, di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Menurut Ferry, cicilan KPR juga berpotensi naik. Tekanan inflasi yang terjadi akibat perang AS dan Iran, otomatis akan mendorong Bank Sentral (Bank Indonesia/BI), terpaksa menaikkan suku bunga, imbasnya cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) berpotensi ikut naik.
“Dampak perang itu, terhadap industri properti nasional memang tidak secara langsung. Namun, akibat dari perang tersebut, akan terlihat dari laju inflasi dan kenaikan suku bunga perbankan nasional,” tandas Ferry.
Lebih jauh, Ferry memaparkan, kenaikan harga minyak secara global, akan mengakibatkan inflasi yang berpotensi mendorong, naiknya biaya energi dan transportasi.
“Disposable income atau pendapatan yang dapat dibelanjakan oleh rumah tangga kelas menengah, seperti bahan bakar minyak (BBM), listrik, serta kebutuhan bahan pokok, berpotensi naik seiring meningkatnya biaya energi. Semua Kenaikan ini, akan menekan daya beli kelas menengah, terutama untuk pembelian rumah pertama,” pungkasnya.
Walaupun demikian, Ferry menilai pasar perumahan nasional masih cenderung moderat, bila perang terbuka AS dan Iran serta ketegangan geopolitik internasional tidak berlangsung lama.
Konflik antara AS plus Israel melawan Iran, memicu kekhawatiran masyarakat internasional terhadap ambruknya stabilitas ekonomi global. Ketegangan geopolitik itu dinilai berpotensi mempengaruhi sejumlah indikator makro, mulai dari harga minyak dunia hingga kebijakan kenaikan suku bunga perbankan terhadap cicilan KPR di Indonesia.
Dalam kesempatan berbeda, Wakil Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Bambang Ekajaya mengatakan, efek konflik global antara AS dan Iran, bisa berdampak secara langsung maupun tidak langsung, terhadap industri properti nasional.
“Dampak langsungnya ialah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang memicu lonjakan biaya transportasi, contohnya biaya angkut barang menjadi naik. Material bahan bangunan itu berat-berat, seperti semen, pasir, besi baja, dan ini akan berpengaruh, terhadap biaya pembangunan hunian,” ujar Bambang
Harga Jual Properti Meningkat
Kenaikan ongkos transportasi dan distribusi material bahan bangunan ini, otomatis akan mendorong peningkatan harga jual properti, baik rumah tapak maupun apartemen.
“Harga minyak pasti melonjak tajam, bila perang berkepanjangan. Harga properti juga pasti ikut naik, sekaligus akan berdampak signifikan terhadap biaya pembangunan perumahan nasional,” tandas Bambang.
“Pasar properti dipastikan akan terpukul. Para calon konsumen properti juga akan wait and see, terhadap situasi terkini,” katanya.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Noviardi Ferzi dalam analisis bertajuk ‘Geo Politik Ekonomi Global bagi Rumah Tangga Indonesia’, Senin (2/3/2026), menyebut Selat Hormuz merupakan jalur vital yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Jika distribusi terganggu, harga minyak mentah global berpotensi melonjak ke kisaran US$100 sampai 150 per barel.
“Jika minyak menembus US$120 per barel, dampaknya bukan hanya psikologis. Inflasi global bisa terdorong naik 0,6 hingga 1,2 persen, dan pertumbuhan ekonomi dunia berpotensi terpangkas 0,5 sampai 1 persen,” ujarnya.
Berdasarkan pantauan koranproperti.com di lapangan, nasib harga material bangunan yang menjadi bahan baku utama industri properti, hingga hari ini diliputi ketidakpastian. Hampir semua bahan material bangunan dipengaruhi fluktuasi nilai tukar dolar.
Pada akhirnya, semua itu akan berdampak buruk terhadap perkembangan dan pertumbuhan industri properti nasional.
Bagi industri properti yang mengandalkan bahan baku impor, dapat dipastikan harga rumah yang dipasarkan ke publik akan mengalami kenaikan signifikan.
Rumah tapak mewah dan apartemen kelas premium adalah dua bentuk industri properti yang dipastikan terkena imbas secara langsung akibat perang tersebut.
Sementara itu, di kalangan pengembang, kabarnya juga sudah mulai mengisyaratkan kenaikan harga properti, termasuk hunian baru. Hal ini terjadi, lantaran biaya bahan baku dan transportasi serta distribusi mengalami kenaikan.
Developer yang mengandalkan bahan baku impor dalam proyek propertinya, akan terkena imbas secara langsung, karena ketersediaan barang yang semakin menipis, serta jalur transportasi dan distribusi untuk pengiriman bahan material terganggu.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terbaru dunia properti melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news setiap hari.
Hotline Redaksi (WA) 0812 8934 9614
Email: redaksi@koranproperti.com


