Sektor properti nasional mencetak sejarah baru di panggung internasional lewat penunjukan Soelaeman Soemawinata sebagai FIABCI Representative of UN Geneva. Pemberian mandat bergengsi ini, tidak hanya sekadar pengakuan dunia atas kesuksesan industri properti Indonesia, tetapi juga membuka keran bagi pengembang lokal untuk langsung mengakses pembiayaan hijau (green financing) skala global.
KoranProperti.com (Jakarta) – Ekosistem properti nasional berhasil menorehkan pencapaian bersejarah dipanggung internasional. Ketua Kehormatan Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), Soelaeman Soemawinata, resmi ditunjuk sebagai FIABCI Representative of UN Geneva (Perwakilan Federasi Realestat Dunia untuk PBB) di Jenewa, Swiss.
Mandat bergengsi sebagai perwakilan khusus ini diserahkan secara langsung oleh FIABCI World President 2025-2026, Antonio Campagnoli, dalam perhelatan FIABCI World Congress ke-76 yang berlangsung di Wina, Austria, pada 8 sampai 12 Juni 2026 lalu.
Penunjukan ini menjadi bentuk pengakuan tertinggi dunia, atas konsistensi dan kontribusi aktif pelaku industri properti domestik dalam dinamika tata ruang dan perumahan lintas negara.
“Setelah delapan tahun berkiprah di FIABCI dunia, tugas baru ini merupakan satu kehormatan, karena saya menjadi perwakilan organisasi FIABCI di PBB. Ini sekaligus membuktikan bahwa kontribusi Indonesia yang konsisten bagi industri realestat global diakui dan diperhatikan dunia,” kata Soelaeman dalam siaran pers resminya, Selasa (23/6/2026).
Sebelum menerima mandat ini, rekam jejak kepemimpinan Soelaeman dalam industri properti sangat kuat di level regional. Petinggi di PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) ini, telah menyelesaikan mandat sebagai Presiden FIABCI se-Asia Pasifik selama tiga periode berturut-turut (2018-2022), serta aktif sebagai bagian dari Board of Directors FIABCI periode 2022-2026.
Selama memimpin di kawasan Asia Pasifik, mantan Ketua Umum DPP REI periode 2016-2019 ini gencar mengadvokasi isu hunian terjangkau bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Pengalaman sukses Indonesia dalam menjalankan Program Sejuta Rumah juga dijadikan sebagai studi kasus makro yang disebarluaskan ke berbagai negara mitra, termasuk Malaysia, Taiwan, Brunei Darussalam, India, hingga Korea Selatan dan Jepang.
Konsep orisinal ini dinilai sangat menarik oleh komunitas internasional, karena berhasil menempatkan pengembang swasta di garda terdepan konstruksi yang berkolaborasi langsung sebagai mitra strategis program pembiayaan Pemerintah.
Penerapan Pembangunan Berkelanjutan
Di lembaga dunia FIABCI itu, Soelaeman memegang status konsultatif khusus pada Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC) PBB. Status ini memberikan hak penuh bagi perwakilan federasi untuk menghadiri pertemuan resmi, menyampaikan pernyataan tertulis, hingga memberikan masukan keahlian dalam sidang-sidang komisi penasihat PBB.
Dalam menjalankan misi barunya, Soelaeman yang juga menjabat Komisaris Utama Infiniti Land ini, telah merumuskan tiga pilar sebagai fokus utama kerjanya yang akan diperjuangkan demi masa depan hunian global.
Adapun ketiga pilar itu ialah Pertama, melakukan percepatan penyediaan rumah terjangkau sebagai tindak lanjut misi advokasi global untuk memastikan masyarakat kelas bawah mendapatkan akses hunian layak dan sehat, serta bercermin dari kesuksesan regulasi perumahan nasional.

Kedua, menerapkan pembangunan berkelanjutan (SDGs) untuk mendorong standardisasi konstruksi hijau yang ramah lingkungan pada kota-kota berkembang, dengan tujuan untuk menekan emisi karbon sektor properti secara signifikan.
BACA INI: Program 3 Juta Rumah ‘Memble’, Diduga Dampak dari Banyaknya Kegiatan ‘Seremonial’ Kementerian PKP
Ketiga, mengembangkan kota pintar (Smart City) dengan mengintegrasikan teknologi informasi dalam perencanaan tata ruang kota modern, untuk menciptakan tata kelola wilayah yang efisien, tangguh, dan inklusif.
Kini, industri properti nasional tidak lagi hanya sekadar menjadi konsumen regulasi global semata. Kehadiran perwakilan Indonesia di PBB, membuka peluang interaksi makro yang lebih luas bagi pengembang lokal untuk menyerap pembiayaan hijau internasional, sekaligus memosisikan standar pengelolaan pemukiman domestik, sejajar dengan arsitektur kebijakan pembangunan global.
Tampilnya tokoh properti nasional dalam organisasi real estat dunia ini, secara langsung akan memberikan posisi strategis, sekaligus menaikkan kelas industri properti nasional dari konsumen regulasi menjadi perumus kebijakan global, dan ini akan membuka peluang emas bagi pengembang lokal untuk menyerap investasi dan pembiayaan hijau internasional.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terbaru dunia properti melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news setiap hari.
Hotline Redaksi (WA) 0812 8934 9614
Email: redaksi@koranproperti.com


