Nilai investasi fantastis sebesar Rp25 triliun resmi mengalir ke jantung kota Sydney, Australia lewat tangan dingin arsitek kelahiran Indonesia Iwan Sunito yang berduet dengan arsitek asal Jepang Koichi Takada. Kedua sosok ini siap mentransformasi kawasan Kings Bay Precinct, menjadi sebuah ‘kota dalam kota’ yang belum pernah ada sebelumnya.
KoranProperti.com (Sydney) – Pengembang sekaligus arsitek visioner kelahiran Indonesia Iwan Sunito, resmi mengumumkan kolaborasi strategis dengan arsitek lanskap internasional bereputasi tinggi asal Jepang, Koichi Takada.
Kemitraan dua maestro ini bertujuan merekayasa kawasan terpadu (mixed-use) prestisius senilai AUD 1,9 miliar (setara Rp25 triliun), yang berlokasi di Kings Bay Precinct, Inner West Sydney, Australia.
Langkah monumental ini mempertemukan dua figur sentral yang selama beberapa dekade telah berkontribusi membentuk estetika perkotaan modern di Sydney.
Melalui sinergi kekuatan filosofis dan kapabilitas desain yang unik, keduanya berkomitmen menghadirkan destinasi urban baru yang tidak hanya menonjol secara visual, melainkan juga mendefinisikan ulang cara masyarakat kontemporer berinteraksi, bekerja, dan menikmati ruang hidup di tengah dinamika kota kosmopolitan.
Berdiri di atas lahan strategis seluas sekitar 14.100 meter persegi di koridor pertumbuhan Five Dock, proyek mega-struktural ini diproyeksikan memiliki total luas lantai kotor (Gross Floor Area/GFA) mencapai 80.400 meter persegi. Rencana ini mengacu pada usulan koefisien lantai bangunan (Floor Space Ratio/FSR) sebesar 5,7:1.
Berdasarkan masterplan yang dirancang, kawasan terpadu terintegrasi ini akan merangkum:
- Sekitar 840 unit hunian (residensial) premium kontemporer.
- Akomodasi hotel bintang lima dan ruang komersial/ritel modern.
- Fasilitas komunitas, area publik inklusif, serta konektivitas pejalan kaki.
- Komponen affordable housing (hunian terjangkau) untuk mendukung inklusivitas sosial kota.
Bagi Iwan Sunito dan Koichi Takada, proyek Five Dock ini bukan hanya sekadar portofolio properti atau sekumpulan struktur beton dan kaca. Visi fundamental proyek ini berpusat pada penciptaan “city within a city“, yaitu sebuah kawasan terpadu mandiri yang memiliki identitas sosial, estetika, dan dinamika kehidupannya sendiri.
Kawasan ini diposisikan sebagai destinasi utama yang akan mampu menarik minat publik luas untuk berkunjung, melampaui batas demografis penghuni lokal.
“Kami mengonseptualisasikan Five Dock sebagai penolakan terhadap formula mixed-use konvensional monoton yang biasanya hanya menumpuk hunian di atas podium ritel secara mekanis. Kami menghadirkan blueprint yang berani, disruptif, dan benar-benar baru bagi Sydney,” ujar Sunito, Founder dan Group CEO One Global Capital.
Sunito menekankan pentingnya menciptakan pembangunan berbasis pengalaman (experience-driven development).
“Kami ingin publik datang bukan karena sebuah keharusan, melainkan karena kawasan ini menawarkan sebuah pengalaman emosional yang hidup, melalui kombinasi arsitektur, lanskap, hospitality, kurasi kuliner, instalasi seni, serta ruang publik yang dinamis,” tandas Sunito.
Arsitektur Out of The Box
Keunikan proyek Five Dock bersandar pada kolaborasi harmonis antara dua arsitek dengan latar belakang keilmuan dan rekam jejak yang solid. Iwan Sunito, menyandang gelar Bachelor of Architecture with Honours serta Master of Construction Management dari UNSW Sydney.
Dalam mega proyek ini, Iwan membawa perspektif tajam dari pelaku industri yang memahami kalkulasi bisnis, kepatuhan regulasi, sekaligus memiliki sensitivitas ruang. Portofolionya selama lebih dari 25 tahun telah terbukti mendefinisikan ulang cakrawala kota Sydney.
Di sisi lain, Koichi Takada membawa reputasi global melalui pendekatan desain organik dan biometrik yang mengedepankan keselarasan alam dengan kenyamanan manusia. Pertemuan dua visi ini, melahirkan sinergi yang mampu menempatkan Five Dock sebagai proyek prestisius yang melampaui fungsi dasar bangunan fungsional.

“Sebagai praktisi arsitektur, saya percaya karya terbaik adalah yang mampu mengintervensi hidup manusia secara positif. Bersama Koichi, kami merumuskan konsep arsitektur out of the box yang tidak hanya sekadar mereplikasi formula masa lalu, melainkan menetapkan standar baru bagi generasi pengembang berikutnya,” pungkasnya.
Ketika mayoritas pengembangan properti mixed-use di dunia menerapkan pola linear, ritel di lantai dasar dan klaster hunian di atasnya, mega proyek Five Dock menempatkan ruang publik dan kualitas pengalaman manusia, sebagai jangkar utama dari keseluruhan desain.
Struktur arsitektural dirancang dinamis dengan eksplorasi bentuk organik khas Takada yang mengintegrasikan koridor pejalan kaki, taman terbuka hijau, dan pusat aktivitas sosial yang aktif dari pagi hingga malam hari.
Sentuhan personal yang bernilai tinggi juga dihadirkan Iwan Sunito. Sebagai putra kelahiran Indonesia yang tinggal dan berkarya di Australia selama lebih dari empat dekade, dia merefleksikan kehangatan nilai komunal, dan budaya kuliner khas Asia ke dalam gaya hidup urban Australia modern. Kombinasi ini melahirkan proyek properti berjiwa Sydney dengan perspektif global.
Dengan taksiran nilai kapitalisasi pengembangan properti mencapai AUD 1,9 miliar atau setara Rp25 triliun, Five Dock resmi tercatat sebagai proyek terbesar sepanjang perjalanan karier Iwan Sunito di Australia.
Momentum ini sekaligus menandai babak baru bagi korporasi properti One Global Capital, yaitu bertransformasi dari hanya sekadar membangun menara residensial ikonik, menjadi pencipta ekosistem perkotaan yang terhubung, hidup, dan dirancang untuk bertahan lintas generasi.
“Sebuah gedung bisa menjadi ikonik karena struktur fisiknya, namun sebuah kawasan akan abadi karena memori dan kehidupan yang tumbuh subur di dalamnya. Di Five Dock, kami tidak hanya sekadar mendirikan gedung, tetapi membangun masa depan,” pungkas Sunito optimistis.
Mega proyek Five Dock bukan lagi hanya sekadar deretan gedung mewah, melainkan sebuah pembuktian bagaimana arsitektur modern dapat memanusiawikan ruang urban.
Di bawah kendali One Global Capital dan sentuhan organik Koichi Takada, proyek senilai Rp25 triliun ini, tidak hanya akan mempercantik skyline Sydney, tetapi juga menjadi sebuah lompatan besar yang akan membuktikan bahwa properti masa depan adalah tentang menciptakan kehidupan, bukan sekadar investasi beton.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terbaru dunia properti melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news setiap hari.
Hotline Redaksi (WA) 0812 8934 9614
Email: redaksi@koranproperti.com

