Potensi bisnis hunian TOD menembus angka fantastis Rp2,7 triliun menjelang penutupan tahun 2026. Didorong oleh lonjakan peminat hingga 99 persen di berbagai titik transit Jabodetabek, hunian berbasis angkutan massal ini menjelma menjadi senjata utama menekan backlog 9,9 juta rumah di Indonesia.
KoranProperti.com (Jakarta) – Fenomena menarik mewarnai pasar properti nasional menjelang tutup tahun 2026. Kini, masyarakat urban perkotaan semakin rasional dalam memilih tempat tinggal.
Hunian berkonsep Transit Oriented Development (TOD) atau kawasan berbasis transit angkutan massal mencatatkan lonjakan peminat yang luar biasa. Sebaliknya, segmen rumah tapak subsidi di pinggiran kota justru semakin seret peminat.
Tingginya kemacetan trafik lalu lintas di Jabodetabek, memicu kerugian ekonomi hingga Rp65 triliun per tahun, dan telah mendorong pergeseran gaya hidup masyarakat.
Hunian yang terintegrasi dengan moda transportasi publik menjadi kebutuhan utama untuk efisiensi mobilitas dan biaya hidup.
Proyek rumah susun (Rusun) MBR Maraya Residences di kawasan transit Manggarai, Jakarta Selatan, diserbu calon pembeli. Lebih dari 1.500 pendaftar tercatat melalui ajang Danantara Housing Expo dan KAI Expo, beberapa waktu lalu.
Di sisi berbeda, berdasarkan data Badan Pengelola Tapera (BP Tapera) per 31 Oktober 2026, realisasi penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) mencapai 194.360 unit rumah.
Capaian ini hanya memenuhi sekitar 55,5 persen dari total target nasional 2026 sebesar 350.000 unit rumah dan masih tersisa sekitar 155.000 unit hingga tutup tahun ini.
Namun, hingga dua bulan menjelang tutup tahun 2026, permintaan dan peminat rumah tapak subsidi KPR FLPP di pinggiran kota semakin sepi, dan tidak menarik bagi kalangan MBR.
BACA INI: Rumah Subsidi Kedodoran vs Hunian TOD Minim Pasokan, Ada Apa dengan Program Perumahan Nasional?
Merespon tingginya peminat hunian TOD, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Nixon LP Napitupulu menegaskan, lokasi strategis dan dekat dengan stasiun menjadi pemicu utama lonjakan konsumen TOD.
Tingginya minat hunian TOD terlihat di The SpringLake View Apartment Bekasi yang mencatatkan angka keterisian hingga 99,49 persen per Januari 2026. Pengembangan kawasan berbasis transit terus dipacu melalui sinergi BUMN, perbankan, dan Pemerintah Daerah.
BTN bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) juga menggarap sekitar 5.400 unit hunian TOD di empat kota besar (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya) dengan potensi nilai penjualan mencapai minimal Rp2,7 triliun.
Sebelumnya PT MRT Jakarta juga sudah menggarap 15 proyek infrastruktur TOD di Jakarta dengan total investasi mencapai Rp1,5 triliun.
Head Department TOD Planning & Development PT MRT Jakarta Sagita Devi beberapa waktu lalu pernah mengatakan, sedikitnya terdapat 54 kawasan berorientasi transit atau TOD angkutan umum dibangun di Jabodetabek. Pembangunan ini direncanakan akan rampung pada tahun 2029 mendatang.
MBR Pilih Hunian TOD
Berdasarkan Perpres No. 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek 2018-2029, terdapat lebih dari 54 kawasan TOD yang dirancang (termasuk 11 titik di Jakarta, serta titik strategis di Depok, Bekasi, Bogor, dan Tangerang).
Terkait dengan masih tingginya angka backlog hunian (sekitar 9,9 unit), Pemerintah menjadikan TOD sebagai pilar utama Program Tiga Juta Rumah.

Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan Kementerian PKP Sri Haryati menyampaikan bahwa Pemerintah menargetkan 40.000 unit rusun tahun ini yang difokuskan pada kawasan strategis seperti Manggarai, Kemayoran (Alonia), dan Meikarta.
Meski potensi bisnis dan peminatan hunian TOD bersubsidi sangat masif, namun segmen komersial, seperti apartemen/kondominium masih menyimpan sejumlah tantangan teknis dan tata ruang.
Data Colliers Indonesia mencatat sekitar 29.000 unit apartemen di Jakarta masih belum terserap hingga Kuartal I-2026. Hal ini menunjukkan bahwa keterjangkauan harga, pembiayaan, dan kualitas kawasan tetap menjadi pertimbangan utama konsumen.
BACA INI: BP Tapera vs Perumnas: Penjualan Rumah Tapak Subsidi Anjlok, Antrean Peminat Hunian TOD Bejibun
Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno menyatakan, hunian TOD wajib didukung integrasi antarmoda, trotoar pejalan kaki yang nyaman, serta angkutan pengumpan (feeder) yang memadai, agar efisiensi energi dan logistik benar-benar tercapai.
Pendapat yang nyaris sama juga disampaikan Pengamat Tata Kota Nirwono Joga. Dia mengingatkan agar proyek hunian TOD membangun ekosistem kota terpadu untuk mencegah risiko gentrifikasi.
Perlu diketahui, gentrifkasi merupakan proses perubahan sosial, ekonomi dan fisik di kawasan perkotaan yang kumuh dan tertinggal atau berpenghasilan rendah menjadi kawasan kelas menengah ke atas.
Jelang tutup tahun 2026, konvergensi antara transportasi umum dan kebutuhan hunian terbukti menjadi kunci utama penggerak pasar properti. Sekarang ini, hunian TOD di pusat kota menjadi tulang punggung baru dalam menekan angka kemacetan, sekaligus memberikan solusi hunian terjangkau bagi masyarakat urban.
Lonjakan peminat hunian TOD membuktikan bahwa akses transportasi menjadi komoditas properti yang sangat penting. Namun, keberhasilan sejati dari potensi bisnis Rp2,7 triliun ini tidak boleh berhenti pada angka penjualan semata, melainkan pada komitmen Pemerintah dan pengembang untuk serius menekan backlog rumah serta menciptakan ekosistem kota yang inklusif.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terbaru dunia properti melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news serta LIPRO TV setiap hari.
Hotline Redaksi (WA) 0812 8934 9614
Email: redaksi@koranproperti.com

