PT Agung Podomoro Tbk (APLN) siap mengembangkan hunian seharga Rp300 jutaan. Di sisi lain, BP Tapera sebagai penyalur rumah subsidi KPR FLPP hingga 9 Oktober 2026, baru merealisasikan 178.211 unit atau sekitar 50,92 persen dari target 350.000 bagi MBR. Padahal, harga rumah yang ditawarkan nyaris sama dengan hunian terjangkau APLN.
KoranProperti.com (Jakarta) – PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) resmi melangkah ke segmen hunian terjangkau dengan menawarkan rumah seharga mulai dari Rp300 jutaan. Langkah pengembang bonafit ini, hadir di tengah sorotan tajam Pemerintah terhadap kinerja Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) yang hingga kini, baru merealisasikan separuh dari target penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tahun 2026.
Melalui strategi terbarunya, APLN memperluas penerapan konsep Living in Style dengan menghadirkan fasilitas club house premium di berbagai proyek hunian, termasuk pada segmen terjangkau.
Marketing Director PT Agung Podomoro Land Tbk Tedi Guswana mengatakan, kehadiran fasilitas club house, bertujuan untuk memberikan pengalaman tinggal yang lebih lengkap dan berkualitas bagi masyarakat dari berbagai segmen.
“Kami ingin menjadi bagian dari solusi Pemerintah dalam menyediakan hunian yang terjangkau dan memberikan pengalaman hidup sehat serta berkualitas. Yang pasti, membeli properti akan memastikan masa depan menjadi lebih baik,” kata Tedi dalam siaran pers, Kamis (8/10/2026).
Sejalan dengan hal itu, Marketing Director Regional PT Agung Podomoro Land Tbk Yenti Lokat menambahkan, pertimbangan calon pembeli rumah saat ini telah bergeser. Konsumen tidak hanya melihat faktor harga dan lokasi, tetapi juga kelengkapan fasilitas yang mendukung gaya hidup sehat.
BACA INI: Penjualan Aset APLN Tembus Rp14 Triliun, Modal Garap Proyek Baru 2026
“Fasilitas club house kami rancang untuk mengintegrasikan berbagai kebutuhan penghuni, mulai dari olahraga, relaksasi, hiburan, hingga aktivitas sosial dalam satu kawasan,” tambah Yenti.
Konsep Living in Style ini, telah diterapkan secara luas di berbagai proyek properti Agung Podomoro yang tersebar di Jakarta, Bogor, Karawang, Bandung, Batam, Medan, Balikpapan, hingga Samarinda.
Untuk mengenalkan fasilitas ini lebih dekat, APLN menggelar pameran The Club House by Agung Podomoro sejak tanggal 6 sampai 11 Oktober 2026, di Central Park Mall, Jakarta.
Selain penawaran harga hunian mulai dari Rp300 jutaan, APLN juga mengguyur pasar dengan berbagai promo menarik, antara lain uang muka (DP) ringan mulai dari 5 persen, diskon hingga 25 persen, bebas PPN, AJB, dan BPHTB, bebas Iuran Pemeliharaan Lingkungan (IPL) hingga 12 bulan, cashback sampai 3 persen dengan nilai maksimal Rp25 juta
Evaluasi Kinerja BP Tapera
Di saat pengembang swasta gencar menawarkan hunian terjangkau dengan fasilitas lengkap, sektor rumah tapak subsidi justru mengalami ketertinggalan target. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mempertanyakan kinerja BP Tapera dalam rapat evaluasi dan percepatan realisasi KPR FLPP 2026, di Kantor Kementerian PKP, Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Hingga 9 Oktober 2026, realisasi penyaluran KPR FLPP baru mencapai 178.211 unit rumah atau sekitar 50,92 persen dari target tahunan sebanyak 350.000 unit bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Artinya, masih terdapat selisih 171.789 unit yang harus dikejar hingga akhir tahun 2026.

Dalam rapat yang dihadiri Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho, perbankan, dan asosiasi pengembang, Menteri Ara mempertanyakan kinerja BP Tapera, terhadap realisasi KPR FLPP yang tersalurkan baru hanya 50,92 persen. Menteri Ara langsung menginstruksikan agar dilakukan evaluasi mendasar terhadap kinerja BP Tapera.
“Evaluasi kinerja BP Tapera harus mendasar, sehingga saya tahu apakah tim sudah maksimal atau masih bisa lebih baik, karena ini target besar,” tegas Ara.
BACA INI: Memantau Anomali Properti Nasional 2026: Rumah Subsidi Anjlok, Hunian Segmen Menengah Atas Diserbu
Merespon pernyataan Menteri Ara, Heru mengakui pihaknya harus bekerja lebih keras lagi dan menyebut pencapaian FLPP sangat bergantung kepada dukungan ekosistem perumahan secara keseluruhan.
Sebagai langkah untuk percepatan penyaluran KPR FLPP ini, BP Tapera dijadwalkan akan menggelar akad massal sebanyak 71.000 unit rumah subsidi tanggal 17 Desember 2026 mendatang di Malang, Jawa Timur.
Dalam upaya gelar akad massal itu, Menteri Ara meminta BP Tapera, perbankan, dan asosiasi pengembang untuk segera memastikan kesiapan data calon debitur, fisik bangunan, serta legalitas dokumen, agar akad dan pencairan dana dapat berjalan serentak dan tidak ada kendala.
Melihat semakin gencarnya sejumlah pengembang swasta mengembangkan rumah seharga Rp300 jutaan, maka konsumen kelas menengah dan MBR, dipastikan akan lebih memilih rumah tapak garapan pengembang swasta, dibandingkan dengan membeli rumah subsidi KPR FLPP dengan tenor panjang. ‘Selamat Tinggal Rumah Subsidi BP Tapera’.
Simak dan ikuti terus perkembangan berita terbaru dunia properti melalui ponsel dan laptop Anda. Pastikan Anda update dengan mengklik koranproperti.com dan google news serta LIPRO TV setiap hari.
Hotline Redaksi (WA) 0812 8934 9614
Email: redaksi@koranproperti.com

